NEWSTICKER

Seruan Damai dari Bali

16 November 2022 08:15

Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Anggota G-20 (KTT G-20) biasanya memang membicarakan persoalan ekonomi dan turunannya. Namun, KTT di Bali kali ini lain karena berlangsung ketika dunia tengah diliputi ketegangan, bahkan di tengah perang antara Rusia dan Ukraina.

Tatkala tak lagi ada jarak di antara negara-negara di seluruh penjuru dunia, masalah di suatu tempat akan berdampak di tempat lain. Perang di suatu kawasan pun berimbas buruk di kawasan lain.

Perang Ukraina dan Rusia ialah contoh dari fenomena itu. Tak hanya menimbulkan banyak korban jiwa dari kedua pihak, tak cuma menyebabkan kerusakan fisik luar biasa, terutama di Ukraina, perang membuat krisis di banyak negara bertambah parah. Di saat dunia sedang mati-matian memulihkan diri dari gempuran covid-19, perang membuat upaya itu menjadi sulit setengah mati.

Perang Ukraina kontra Rusia juga berpengaruh pada pembelahan masyarakat global. Banyak negara yang pro dan membela Ukraina, ada pula yang berpihak kepada Rusia. Bahkan, ada tanda-tanda nasfu berperang di Eropa Timur itu menular ke belahan dunia yang lain. Ketegangan terjadi di kawasan Laut China Selatan, di Selat Taiwan, juga di Semenanjung Korea.

Tentu, kita tak ingin dunia dicengkeram semangat sesat saling membunuh. Pasti, kita tak menghendaki dunia dijajah watak dan perilaku destruktif. Jelas, kita tak mau dunia terpecah belah seperti yang sudah-sudah. Kita pun tak berharap sejarah kelam terulang.

Pada konteks itulah, sungguh tepat seruan yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka KTT G-20 di The Apurva Kempinski Bali, kemarin. Jokowi menegaskan, sudah saatnya perang dihentikan. Perang hanyalah menghambat gerak maju dunia sehingga mesti disudahi.