NEWSTICKER

Pasca-penembakan, Aktivitas di Kantor MUI Berjalan Normal

N/A • 3 May 2023 10:30

Aktivitas di kantor MUI pusat tetap berjalan normal setelah peristiwa penembakan, Selasa (2/5/2023) kemarin. Hal itu disampaikan Ketua Komisi Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI, Cholil Nafis.

"Alhamdulillah (kegiatan) berjalan normal," kata Cholil di Selamat Pagi Indonesia, Rabu (3/5/2023). 

Cholil mengatakan, pihaknya akan mengadakan rapat untuk menyelesaikan kasus penembakan itu. Namun, ia memastikan pelayanan di MUI tetap berjalan. Saat ini, pihaknya mulai meningkatkan kewaspadaan dan keamanan di sekitar kantor MUI. 

"Di MUI berjalan sebagaimana biasanya, pelayanan ke umat tetap berjalan, kita tingkatkan kewaspadaan dan keamanan," katanya. 

Cholil mengaku sebelum penembakan, pelaku empat kali mengirim surat ancaman ke MUI. Pelaku dalam surat yang ditujukan ke MUI mengaku sebagai wakil Tuhan dan wakil rasulnya. 

"Yang saya terima suratnya lebih dari dua kali ya ada sekitar empat kali. Ada surat yang memang ditujukan ke MUI bahwa dia wakil Tuhan dan wakil rasulnya untuk menyenangkan Tuhannya," jelasnya.

Pelaku dalam suratnya mengaku sebagai utusan untuk mempersatukan umat. MUI diminta mengakuinya sebagai wakil Tuhan. Surat itu, kata Cholil, diserahkan ke Komisi Kajian MUI. Namun, surat pengakuan pelaku sebagai nabi tidak ditanggapi karena tidak berkepentingan dengan lembaga. 

Ia merasa pelaku hanya perlu dipantau. Namun, ada surat selanjutnya dari pelaku yang bersumpah mencari keadilan dan ancaman pembunuhan. Karena isi surat dan pelaku tidak meyakinkan, MUI tetap tidak menanggapinya. 

"Pada saat suratnya yang kedua, ia mau membunuh penguasa-penguasa negeri ini termasuk pengurus-pengurus MUI, surat itu juga (ditujukan) ke Polda Metro Jaya. (Namun), kita tidak terlalu menanggapi karena secara individu kita melihat ada ketidaknormalan dalam paham keagamaan dan mungkin secara kejiwaan (pelaku)," tutur Cholil. 

Adapun pelaku penembakan dinyatakan meninggal saat ditangkap polisi. Kini, polisi menggeledah rumah pelaku di Lampung untuk mengetahui motif penembakan.
(Christine Sheptiany)