9 May 2026 17:41
Pelaksanaan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima menuntut kesiapan fisik dan pemahaman mendalam dari setiap calon haji. Di tengah pertemuan jutaan manusia dari berbagai belahan dunia, pemahaman terhadap tata cara ibadah yang tepat menjadi kunci utama agar rangkaian haji berjalan tertib dan sesuai tuntunan syariat.
Perjalanan ibadah haji merupakan proses panjang yang terdiri dari tahapan-tahapan penuh bermakna. Ibadah dimulai dengan jemaah berihram, diikuti dengan tawaf mengelilingi Ka'bah, sa'i antara bukit Safa dan Marwah, hingga tahallul sebagai penutup fase umrah.
Memasuki fase haji, jemaah kembali berihram pada 8 Zulhijah, sebelum wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah sebagai puncak ibadah. Setelah wukuf, rangkaian berlanjut dengan mabit di Muzdalifah dan menuju Mina untuk melaksanakan lempar jumrah yang dimulai dengan Jumrah Aqabah pada 10 Zulhijah.
Rangkaian dilanjutkan pada hari tasyrik yakni 11-13 Zulhijah. Seluruh rangkaian ini ditutup dengan tawaf wada, sebelum jemaah meninggalkan Tanah Suci.
Penyelenggara perjalanan haji, seperti Patuna Travel, menekankan pentingnya jemaah membedakan antara rukun dan wajib haji. Rukun haji, seperti ihram, wukuf, tawaf, sa'i, dan tahallul, adalah aspek yang harus dilakukan sendiri oleh jemaah. Sementara itu, wajib haji seperti mabit di Mudalifah dan Mina, lempar jumrah serta tawaf wada, jika berhalangan, dapat diwakilkan atau dikenakan dam (denda).
"Kewajiban-kewajiban ini tentunya harus dilakukan, kalau tidak ya pasti akan kena dam atau bisa diwakilkan. Nah itu nanti penjelasannya beda lagi. Sehingga harus dijelaskan antara rukun dan wajibnya, supaya jemaah tahu," jelas pembimbing ibadah haji 2026 dari Patuna Travel, Ustaz Achmad Syaifudin yang dikutip Selamat Pagi Indonesia pada Sabtu, 9 Mei 2026.
| Baca juga: Doa agar Disegerakan ke Tanah Suci: Arab, Latin, dan Artinya |