Cerita Nurul Rahmadani, Volunteer Indonesia di Piala Dunia 2026

20 July 2026 10:13

Ajang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat tidak hanya menjadi panggung bagi para pesepak bola dunia, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi para relawan (volunteer) yang terlibat di dalamnya. Salah satunya adalah Nurul Rahmadani, diaspora dan volunteer asal Indonesia yang bertugas memastikan kelancaran ajang empat tahunan tersebut.

Nurul menceritakan awal mula dirinya bisa bergabung menjadi volunteer FIFA. Kesempatan emas ini berawal dari informasi seorang rekan yang sebelumnya sama-sama menjadi relawan pada ajang Piala Dunia U-17 di Jakarta.

Selama bertugas di Atlanta, Amerika Serikat, Nurul ditempatkan di divisi Volunteer Management. Perannya lebih berfokus pada sisi manajerial dan sumber daya manusia (SDM), mirip dengan fungsi Human Resources (HR) atau General Affair (GA) di sebuah perusahaan.

"Kerjaan saya memastikan semua tugas volunteer tidak ada kendala. Kita memanajemen teman-teman volunteer mulai dari seragam hingga kebutuhan mereka saat hari pertandingan. Selain itu, saya juga sempat bertugas membagikan black card untuk para suporter, hal yang simpel tapi sangat berkesan," ungkap Nurul dalam Breaking News, Metro TV, Senin 20 Juli 2026.

Ajang Promosi Budaya Nusantara

Selain mendapatkan pengalaman manajerial tingkat internasional, Nurul juga memanfaatkan momen tersebut untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata Indonesia kepada relawan dari berbagai negara.

Sambutan hangat dari rekan-rekan sesama relawan membuatnya semakin antusias bercerita. "Mereka sangat excited saat saya ceritakan tentang negara kita, wisata, dan makanan kita. Bahkan, kebanyakan teman-teman volunteer saya berencana mengunjungi Indonesia pada 2026 atau 2027 ini," ceritanya.
 


Fasilitas Menarik dan Pengalaman Tak Terlupakan

Menjadi bagian dari panitia penyelenggara memberikan Nurul banyak keuntungan. FIFA memfasilitasi para relawan dengan perlengkapan seragam lengkap, konsumsi selama jam kerja, hingga Breeze Card yang menggratiskan seluruh biaya transportasi publik selama di Atlanta.

Lebih dari itu, Nurul mendapatkan kesempatan untuk menonton delapan pertandingan kelas dunia secara langsung, termasuk dari bangku VIP.

"Pengalaman paling berkesan adalah waktu pertama kali nonton di stadion dan diberi akses ke VIP Tribune saat laga Spanyol melawan Cape Verde. Saya bisa melihat Lamine Yamal benar-benar di depan mata," kata Nurul. 

Bagi masyarakat Indonesia yang berminat menjadi volunteer di ajang internasional FIFA selanjutnya, Nurul memberikan sedikit kiat. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris adalah syarat mutlak yang harus dikuasai, karena seluruh tahapan seleksi mulai dari esai, psikotes, hingga wawancara menggunakan bahasa tersebut.

"Selain itu, mungkin ada tantangan di pengurusan visa. Tapi kalau bahasa Inggris kita aman, proses assessment dan wawancaranya tidak akan terasa terlalu sulit," ucap Nurul.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X