Piala Dunia 2026 Sarat Intervensi Politik, Akmal Marhali Sebut Kekalahan AS Sebagai Karma

7 July 2026 21:49

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi sorotan tajam setelah terbukti melakukan 'cawe-cawe' dalam urusan teknis Piala Dunia 2026. Trump diketahui secara langsung menelepon Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meninjau ulang status kartu merah yang diterima striker andalan AS, Folarin Balogun.

Keputusan FIFA yang melunak dan menganulir sanksi tersebut memicu kritik keras dari berbagai pihak, tak terkecuali dari pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali.

Akmal menilai insiden ini sebagai preseden sangat buruk sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Ia menegaskan bahwa Statuta FIFA Pasal 4 secara gamblang melarang adanya intervensi politik dalam sepak bola.

"Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA yang harusnya independen, harusnya bisa menegakkan statutanya. Menurut saya, Infantino di bawah ketiak Donald Trump dalam kaitannya dengan Piala Dunia kali ini," tegas Akmal dalam dialog di Primetime News, Metro TV, Selasa 7 Juli 2026.
 


Piala Dunia '3K': Konspirasi, Kontroversi, dan Komoditi

Lebih lanjut, Akmal menyoroti bahwa intervensi di Piala Dunia 2026 bukan sekadar soal kartu merah Balogun. Ia melabeli turnamen edisi kali ini dengan sebutan '3K', yakni Konspirasi, Kontroversi, dan Komoditi.

Dari sisi konspirasi geopolitik, Akmal mencontohkan perlakuan diskriminatif terhadap Timnas Iran yang harus berpindah-pindah kamp ke Tijuana, Meksiko, serta adanya larangan visa bagi suporter negara tertentu yang di-blacklist oleh AS.

Dari sisi kontroversi teknis di lapangan, banyak keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang dinilai bermasalah, seperti penganuliran gol saat laga Iran melawan Mesir, hingga insiden offside kontroversial yang merugikan Kroasia saat berhadapan dengan Portugal.

Sementara dari sisi komoditi, Piala Dunia 2026 dinilai sarat akan kepentingan komersialisasi sponsor raksasa yang memanfaatkan panggung terakhir bagi maestro sepak bola dunia seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Kekalahan Telak AS Sebagai Karma

Terlepas dari berbagai intervensi dan keuntungan non-teknis yang didapat oleh tuan rumah, langkah Amerika Serikat nyatanya harus terhenti secara memalukan. Skuad The Yanks digulung habis oleh Belgia dengan skor telak 1-4 di fase gugur.

Menurut Akmal, kekalahan telak tersebut adalah bentuk 'karma' atas segala bentuk pelanggaran regulasi yang telah dipaksakan.

"Itu adalah karma yang harus diterima oleh Trump. Mereka sudah berusaha membuat Amerika kuat dengan hadirnya Balogun dan melanggar aturan-aturan FIFA. Tapi intervensi Donald Trump tidak bisa mengalahkan Belgia. Pemain Belgia justru mendapat motivasi lebih untuk membuktikan hal tersebut, hingga akhirnya pesta gol 4-1," ucap Akmal.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X