Lautan Manusia Iringi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

9 July 2026 20:34

Perjalanan hidup Ayatollah Said Ali Khamenei telah berakhir. Namun, perjalanan mengantarkannya menuju peristirahatan terakhir justru menjadi salah satu prosesi duka terbesar yang pernah disaksikan di Asia Barat atau Timur Tengah. Dari Iran hingga Irak, lautan manusia mengiringi setiap langkah terakhirnya untuk melanjutkan perjuangan melawan kezaliman.

Lautan manusia tak pernah surut. Dari Teheran, Qom, hingga Najaf dan Karbala di Irak, jalan-jalan berubah menjadi ruang duka. Jutaan pelayat berbondong-bondong ingin memberikan penghormatan terakhirnya untuk sang mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Said Ali Khamenei.

Teheran, Iran menjadi lokasi pertama prosesi pemakaman berlangsung. Peti jenazah Ali Khamenei dan tiga anggota keluarganya dibawa melintas di pusat kota Iran dan disemayamkan di Grand Musholla. 

Dari Teheran, iring-iringan peti jenazah Ali Khamenei bergeser ke kota suci Qom, Iran. Sambil menggenggam foto sang pemimpin, tangis pecah, lantunan doa terus menggema mengantarkan Ali Khamenei menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
 



Tak hanya di Iran, peti jenazah Ali Khamenei juga dibawa ke Irak. Di Bandara Internasional Najaf, Perdana Menteri Irak tak dapat membendung kesedihannya. Begitu juga dengan para pelayat yang berebut ingin mengusung peti jenazah Ali Khamenei. Perjalanan berlanjut ke Karbala. Di Karbala, jutaan orang memadati kompleks makam Imam Husain. Para pelayat juga turut menyalatkan jenazah Ali Khamenei.

Bagi jutaan pelayat, Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi figur religius yang menemani perjalanan hidup banyak warga Iran dan komunitas Syiah di berbagai negara. Karena itu, prosesi pemakamannya menjelma menjadi perjalanan spiritual melintasi kota-kota suci yang memiliki makna mendalam bagi umat Syiah.

Perjalanan itu akhirnya berakhir di kota kelahirannya yakni kota Mashhad, Iran. Namun bagi jutaan pelayat, kenangan tentang Ali Khamenei diyakini akan terus hidup bukan hanya di mimbar kekuasaan, melainkan di dalam doa-doa yang terus dipanjatkan. Selamat jalan Ayatollah Said Ali Khamenei.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X