27 June 2026 14:42
Di tengah ancaman abrasi yang mengikis pesisir Kota Semarang, muncul sosok pria yang berdiri kokoh layaknya benteng alam yang Ia rawat. Dialah Sururi, hadir menjadi sosok pahlawan sunyi yang tak pernah lelah menjaga benteng terakhir bumi: hutan mangrove Semarang.
Kisah ini dimulai tiga dekade lalu tepatnya pada 1995. Kala itu, rasa cemas menyelimuti hati Sururi saat menyaksikan tanah kelahiran dan daratan di desanya perlahan-lahan lenyap ditelan dan digerus oleh air laut. Keprihatinan yang mendalam itu tidak membuatnya diam atau menyerah pada keadaan. Hati Sururi tergerak untuk terjun langsung ke pesisir memulai penanaman dan membuat pembibitan mangrove mandiri di sekitar tempat tinggalnya.
"Harapannya sudah mulai ada. Kalau secepatnya tahun 2005 kita enggak cepat-cepat tertangani, ya kita bisa saja dikatakan Sayung jilid kedua. Kalau pindah, kami mau pindah ke mana? Tanah saja enggak boleh (punya), apalagi buat beli," ungkap Sururi mengenang masa-masa sulitnya.
Perjalanan sebatang kara ini perlahan menemui titik terang ketika Ia bertemu dengan Prof. Sudarto, seorang akademisi sekaligus mantan Rektor Universitas Diponegoro. Dukungan moril dan ilmiah dari sang profesor menjadi bahan bakar semangat yang selalu menguatkan langkah Sururi untuk terus melakukan konservasi.
Upaya Sururi menyelamatkan lingkungan tidak berjalan mulus. Di awal gerakannya, ia seringkali harus merogoh kocek pribadi untuk membuat pembibitan mangrove mandiri karena minimnya bantuan dana atau CSR. Tantangan alam pun tak kalah berat; gelombang besar seringkali menyapu bersih bibit-bibit mangrove yang baru saja ia tanam dengan susah payah.
| Baca juga: Indonesia Memasuki Fase Baru Pasar Karbon |