Bedah Editorial MI: Masih Alpa Mitigasi Bencana

5 December 2023 09:38

Sejak ratusan juta tahun lalu, wilayah di negeri ini dikelilingi gunung api. Entah sudah berapa juta nyawa melayang akibat konsekuensi tinggal di wilayah yang rawan bencana ini, dari mulai gempa bumi, erupsi, maupun tsunami.

Semestinya, semua pengalaman itu membuat kita lebih peka membaca tanda-tanda alam. Namun, sayangnya, kemampuan kita beradaptasi dengan kondisi geografis ini tidak juga memadai. 

Erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat, pada Minggu (3/12/2023) yang menewaskan puluhan pendaki, membuktikan betapa kita lemah dan lalai dalam hal kepekaan ini. Kita tentu sangat berduka atas korban yang wafat maupun yang masih belum ditemukan.

Tapi, kita juga patut bertanya, tidak adakah peringatan dini sebelum bencana itu terjadi? Bukankah, di setiap gunung ada petugas pemantau, apalagi Marapi tergolong gunung api yang masih aktif?

Tanpa menyalahkan siapa pun, kasus ini semestinya jadi pelajaran betapa kemampuan mitigasi itu mahapenting. Dengan meletakkan kemampuan mitigasi pada prinsip mahapenting itu, maka segala sesuatunya mesti ditunjang kemampuan sumber daya manusia maupun peralatan yang mahamemadai pula. 

Kita ditakdirkan hidup di daerah rawan bencana. Suka atau tidak suka, kita mesti beradaptasi dengannya. Kita dapat mencontoh Jepang yang punya banyak ahli vulkanologi dan pakar tsunami. Mereka sadar itu penting sebagai bentuk mitigasi sekaligus adaptasi hidup di wilayah rawan bencana.

Arah dan orientasi pembangunan kita pun semestinya disesuaikan dengan kondisi itu. Jangan cuma sibuk membangun destinasi wisata prioritas, tapi lalai dan mengabaikan ilmu serta pengetahuan mitigasi bencana. Jangan karena sibuk membangun kekuatan atau jejaring politik, kita lalai bahwa bencana bisa datang tiba-tiba.

Sungai, pantai, laut, gunung , dan semua keindahan alam yang ada di negeri ini memang menyimpan potensi wisata yang dapat menghasilkan devisa. Keindahan itu juga kerap menjadi jualan saat kampanye pilkada.

Namun, keindahan dan janji manis itu juga dapat menimbukan petaka jika kita tidak pandai merawat dan beradaptasi dengan alam, serta tidak konsisten melunasi janji mitigasi.

Gempa, erupsi, maupun tsunami, bisa datang kapan saja. Kita tidak bisa menunda peristiwa yang berkaitan dengan hukum alam itu. Yang bisa kita lakukan ialah mengantisipasinya lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita kerap mengeklaim memiliki berjibun ahli, tapi nyatanya kita masih kerap alpa dengan mitigasi.

Itu makanya ada pepatah sedia payung sebelum hujan. Kalimat itu merupakan bentuk paling sederhana dari mitigasi. Kearifan semacam ini seharusnya dimiliki seluruh individu yang tinggal di negeri ini, tanpa kecuali.

Kepada para pemegang jabatan dan kuasa, kita kembali mengingatkan bahwa politik anggaran kita belum juga mencerminkan kepedulian. Anggaran mitigasi bencana kita amat sedikit, bila dibandingkan dengan kondisi geografis kita yang rawan bencana. Itu menandakan bahwa tingkat kepedulian negeri ini akan mitigasi bencana amat jauh panggang dari api.

Marapi memang telah reda erupsi. Namun, status gunung ini masih waspada karena sewaktu-waktu dapat kembali erupsi.  Penetapan status-status semacam ini, tentu mesti disosialisasikan dan dijelaskan dalam bahasa yang mudah dimengerti kepada masyarakat, baik itu untuk kondisi gunung maupun ketinggian debit air di sungai maupun bendungan. 

Jangan lagi lalai, agar bencana tidak selalu melahirkan duka dan air mata.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febriari)