3 Kawasan Ikonik di Pulau Jawa Dilanda Kebakaran

11 August 2026 17:15

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tengah membayangi berbagai wilayah di Indonesia. Musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino kuat membuat titik api bermunculan di sejumlah gunung dan kawasan konservasi.

Dikutip dari tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa, 11 Agustus 2026, dalam beberapa pekan terakhir, api melalap tiga kawasan ikonik di Pulau Jawa. Salah satunya Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Lahan sekitar 20 hektare lahan di Alun-alun Surya Kencana dan Kawah Wadon terbakar. Meski api mulai terkendali, petugas masih bersiaga mengantisipasi asap yang masih mengepul.

Lalu, Gunung Andong, Jawa Tengah. Sebanyak delapan titik api menghanguskan dua hektare lahan. Medan yang terjal dan licin memaksa tim gabungan melakukan pemadaman secara manual.

Begitu juga di Gunung Bromo, Jawa Timur. Memasuki hari kedelapan, lahan di Sabana Bromo, seluas 740 hektare, ludes dilahap api. Upaya pemadaman lewat udara water bombing terkendala kabut tebal dan sulitnya sumber air.

Data BMKG menunjukkan bahwa fenomena El Nino kuat tahun ini telah melampaui ambang batas normal dan diprediksi bertahan hingga kuartal I 2027. Puncak musim kemarau diproyeksikan jatuh pada Agustus 2026, yang mencakup hampir 49 persen wilayah daratan Indonesia. Kondisi vegetasi yang kering dan angin kencang membuat api sangat mudah merambat dan sulit dipadamkan.
 

Kalbar terparah


Catatan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sepanjang Januari hingga Juni 2026 mengungkap fakta mengkhawatirkan. Terdapat 107.465 hektare lahan di Indonesia telah ludes terbakar.

Provinsi terparah terjadi Kalimantan Barat (Kalbar). Lalu Riau, NTT, dan Maluku. Selain faktor alam, aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak, masih menjadi pemicu utama munculnya titik api.

Pemerintah melalui tim gabungan (TNI, Polri, BNPB, dan relawan) terus melakukan mitigasi melalui pemadaman darat dan udara. Penggunaan helikopter water bombing untuk area yang sulit dijangkau.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya memancing hujan buatan untuk membasahi vegetasi agar tidak mudah terbakar. Serta pengawasan citra satelit untuk memantau hotspot secara real time. 

Masyarakat diimbau untuk ekstra waspada, terutama di provinsi prioritas seperti Jambi, Sumsel, dan seluruh wilayah Kalimantan, guna mencegah meluasnya bencana asap yang merugikan kesehatan dan lingkungan.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X