6 February 2026 11:11
Di tengah derasnya arus informasi dari media sosial, kepercayaan publik terhadap media mainstream tetap tinggi. Namun, Dewan Pers menekankan bahwa media arus utama harus menjaga objektivitas dan integritas untuk menangkal hoaks yang kian marak di dunia digital.
Hal ini disampaikan dalam Outlook Media 2026 yang digelar di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat. Acara ini menghadirkan para pemimpin redaksi media nasional serta pengamat politik untuk membahas masa depan media di era disrupsi digital.
Pengamat politik Burhanudin Muhtadi menegaskan bahwa kebebasan pers merupakan 'nyawa' demokrasi. Menurutnya, ketika media mainstream berfungsi secara profesional, masyarakat cenderung mempercayai informasi dari sumber yang kredibel dibandingkan berita yang tidak jelas di media sosial.
"Keterbukaan dan kebebasan pers itu 'nyawanya' demokrasi. Jika kebebasan media terganggu, hal itu justru memberi jalan bagi media sosial untuk menunjukkan kekuatannya, yang justru menyulitkan pemerintah dalam melakukan kontrol informasi," ujar Burhanuddin.
| Baca juga: Sejarah Hari Pers Nasional dan Tema Tahun 2026 |