Terkendala Intervensi AS, Solusi Diplomatik Konflik Arab Saudi dan Houthi Dinilai Sulit Dicapai

13 October 2026 00:05

Peluang perdamaian dan negosiasi diplomatik antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah (Houthi) Yaman dinilai masih sangat jauh dari harapan. Kebuntuan ini terjadi bukan karena keengganan kelompok Yaman, melainkan akibat kuatnya intervensi dan sandera kepentingan Amerika Serikat (AS) terhadap kebijakan luar negeri Arab Saudi.

Pengamat Politik Asia Barat Daya, Dina Sulaeman, menyoroti bahwa secara rasional dan hitungan ekonomi, Arab Saudi sebenarnya sangat dirugikan oleh perang yang telah berlangsung sejak 2015 ini.

"Sejak 2015 berperang melawan Ansarullah Yaman ini, itu secara ekonomi tuh berdarah-darah gitu ya. APBN-nya Saudi yang sangat kaya raya itu, bahkan IMF pun juga mengatakan ini ekonominya semakin menurun," ujar Dina dalam dialog Metro Hari Ini, Metro TV, dikutip Rabu, 13 Oktober 2026. 

Ia mempertanyakan motif Arab Saudi yang terus melanjutkan peperangan. "Buat Saudi itu enggak ada keuntungan buat mereka untuk melakukan serangan atau berperang melawan saudaranya yang di Yaman ini. Pertanyaannya adalah, siapa yang mendorong Saudi untuk berperang melawan Yaman? Apa kepentingannya?" singgungnya.
 



Dina membeberkan bahwa alasan utama peperangan tak berkesudahan ini berkaitan erat dengan blokade strategis di Laut Merah yang merugikan Israel, sekutu utama AS.

"Problemnya ada di Bab al-Mandab, di Selat Mandab. Kita lihat bagaimana Ansarullah Yaman tiga tahun terakhir ini membantu Palestina dengan cara memblokir Laut Merah. Kapal-kapal yang mau ke Israel enggak boleh lewat gitu ya. Sehingga buat Israel ini ancaman," urainya.

Keterikatan Arab Saudi dengan AS ini dinilai menjadi penghalang utama perdamaian. Padahal, syarat perdamaian yang diajukan Houthi sangat sederhana.

"Yang disampaikan oleh Yaman kan sebenarnya sudah jelas ya, mereka mengatakan kita akan berhenti menyerang kalau Saudi berhenti menyerang, sesimpel itu," kata Dina.

Namun, hal tersebut tidak terwujud karena Arab Saudi terus ditekan oleh kepentingan AS di kawasan tersebut. "Jawaban yang paling rasional ya karena memang Arab Saudi tidak berani untuk melawan atau membantah keinginannya Amerika Serikat, karena Amerika Serikat sangat berkepentingan pemerintahan di Yaman ini tumbang," pungkasnya.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X