Iran Tolak Gencatan Senjata AS: Agresi Harus Berakhir Total

2 April 2026 21:24

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Sayyid Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa negaranya menolak usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif dengan Al-Jazeera pada Selasa, 31 April 2026 waktu setempat, Araghchi menekankan bahwa Iran hanya akan menerima pengakhiran perang secara total dan komprehensif di seluruh kawasan.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Donald Trump yang sebelumnya menyebut bahwa Teheran tengah mengemis gencatan senjata. Araghchi menyebut klaim tersebut sebagai informasi palsu dan menegaskan bahwa Amerika Serikat bukan mitra yang bisa dipercaya.

Araghchi merinci bahwa syarat Teheran untuk mengakhiri konflik bukan sekadar penghentian tembak-menembak sementara. Iran menuntut jaminan komprehensif agar agresi serupa tidak terulang kembali di masa depan.

"Syarat kami sangat jelas. Kami menginginkan perang benar-benar berakhir total, tidak hanya di Iran tetapi di seluruh kawasan. Harus ada pemberian jaminan komprehensif, serta pembayaran ganti rugi dan kompensasi atas besarnya kerugian yang diderita rakyat Iran," tegas Araghchi.
 

Baca juga:
Trump Klaim Target Strategis AS dalam Serangan ke Iran Hampir Tercapai

Status Selat Hormuz: Bukan Perairan Internasional

Terkait jalur logistik global, Araghchi mengeluarkan peringatan keras mengenai status Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa selat tersebut merupakan perairan pedalaman milik Iran dan Oman, sehingga Iran memiliki hak penuh untuk mengatur lalu lintas di sana, terutama di masa perang.

"Saat ini, selat tersebut sepenuhnya terbuka, tetapi tertutup bagi kapal-kapal milik negara-negara yang sedang berperang dengan kami. Di masa perang, kita tidak dapat membiarkan musuh menggunakan perairan pedalaman kita untuk transit," ujarnya.

Klaim Kesiapan Perang Darat

Menanggapi ancaman invasi darat oleh militer Amerika Serikat, Menlu Iran menyatakan bahwa Teheran justru berada dalam posisi yang jauh lebih siap dengan peralatan tempur yang lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Ia mengklaim pihaknya telah berhasil memberikan kerugian besar pada aset strategis musuh, termasuk radar dan pesawat tanker pengisian bahan bakar (AWACS).

"Dalam perang darat, kami bahkan lebih siap dan lebih lengkap peralatannya. Kami sepenuhnya siap menghadapi ancaman invasi darat. Kami berharap mereka tidak melakukan kesalahan fatal seperti itu," pungkas Araghchi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)