Percepat Pemadaman Karhutla, Kodam XII/Tanjungpura Siapkan Langkah Strategis

27 August 2026 20:59

Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan, TNI melalui Kodam XII/Tanjungpura menyiapkan sejumlah langkah untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api kembali meluas. Mulai dari membangun sumur bor di wilayah rawan Karhutla, memodifikasi pompa air untuk menjangkau medan sulit, hingga turun langsung memberikan edukasi kepada masyarakat.

Bagi petugas yang berhadapan langsung dengan kebakaran hutan dan lahan, waktu menjadi hal yang sangat menentukan. Api yang tidak segera dikendalikan dapat dengan cepat menjalar, terutama di lahan kering dengan akses yang sulit dijangkau. 

Namun di lapangan, upaya pemadaman kerap menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah jarak sumber air yang cukup jauh dari lokasi kebakaran. Ketika api mulai menyala, personil tak hanya berpikir bagaimana memadamkannya, mereka juga harus berpikir dari mana air akan didatangkan.

Untuk menjawab persoalan itu, Kodam XII/Tanjungpura membangun sumur bor di sejumlah wilayah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Tujuannya sederhana, mendekatkan sumber air ke lokasi yang berpotensi dilanda kebakaran. 

Dengan adanya sumur bor, air diharapkan dapat lebih cepat digunakan saat personil melakukan pemadaman, sehingga waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencari atau mendatangkan air dari lokasi yang jauh dapat dipangkas.

Bagi penanganan karhutla, ketersediaan air yang dekat dengan titik rawan menjadi salah satu dukungan penting bagi personil di lapangan.

Tantangan lain muncul ketika sumber air sudah tersedia namun lokasi kebakaran berada di medan yang sulit dijangkau. Lahan rawa, medan berlumpur, hingga keterbatasan akses kerap membuat kendaraan pemadam tidak bisa langsung mendekati titik api. 

Dalam kondisi seperti ini, Kodam XII/Tanjungpura mengembangkan modifikasi SPM motor pump. Peralatan ini digunakan untuk mendorong air melalui selang menuju titik-titik yang sulit dijangkau. 

Dengan sistem pompa yang dimodifikasi, air dapat dialirkan lebih jauh dari sumbernya, sehingga personil tetap dapat melakukan pemadaman meski kendaraan tidak bisa masuk langsung ke lokasi kebakaran.
 



Inovasi ini lahir dari satu kebutuhan yang sama, bagaimana membawa air mendekat ke api secepat mungkin. Karena dalam penanganan karhutla, api yang berhasil dikendalikan sejak awal memiliki potensi lebih kecil untuk meluas.

Namun penanganan karhutla tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan setelah api menyala. Sebab, sebaik apa pun peralatan dan seberapa cepat pun personil tiba, pencegahan tetap menjadi garis pertahanan pertama. 

Karena itu, Kodam XII/Tanjungpura juga turun langsung ke tengah masyarakat. Tim sosialisasi memberikan penyuluhan mengenai bahaya kebakaran di hutan dan lahan, serta risiko membuka lahan dengan cara dibakar.

Pesannya jelas, kebakaran yang awalnya muncul di satu titik bisa berkembang menjadi masalah bagi banyak orang. Asap bisa mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat terganggu, dan kerusakan lingkungan dapat menyisakan dampak dalam jangka panjang.

Bagi TNI, penanganan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan personil di lapangan. Masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Karena itulah langkah pencegahan dilakukan bersama dengan peningkatan kemampuan penanganan di lapangan.

Melalui sumur bor, Kodam XII/Tanjungpura berupaya mendekatkan sumber air ke wilayah rawan. Melalui modifikasi pompa, air dapat dialirkan ke medan yang sulit dijangkau. Dan melalui sosialisasi, upaya pencegahan dilakukan sebelum asap muncul dan api meluas. Tiga langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan Karhutla. 

Tak hanya bergerak saat api sudah membesar, tetapi juga menyiapkan sarana mencari solusi atas kendala di lapangan, dan mengajak masyarakat mencegah kebakaran sejak awal.

Melawan karhutla bukan sekedar pertarungan untuk memadamkan api, tetapi juga perjuangan menyiapkan air, menjangkau lokasi sulit, dan mencegah api muncul sebelum terlambat. Kodam XII/Tanjungpura mencoba membangun satu garis pertahanan agar api dapat lebih cepat dihentikan, dan yang lebih penting agar api itu tidak perlu menyala.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X