Bahlil Pastikan 150 Juta Barel Minyak Mentah Rusia Tiba Dalam 2 Minggu

12 May 2026 20:19

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa proses impor 150 juta barel minyak mentah (crude oil) dari Rusia akan mulai tiba di Indonesia dalam kurun waktu satu hingga dua minggu ke depan.

Bahlil menjelaskan bahwa seluruh kontrak kerja antara kedua belah pihak sudah rampung. Saat ini, pemerintah bersama pihak terkait tengah mematangkan aspek teknis pengiriman logistik.

"Secara deal sudah, kontrak sudah, sekarang bicara tentang teknik pengirimannya. Dan mungkin satu-dua minggu ini sudah bisa (tiba)," ujar Bahlil dalam tayangan Prioritas Indonesia Metro TV, Selasa 12 Mei 2026. 

Rencana pembelian minyak mentah ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto pasca-pertemuan diplomatik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia dijadwalkan menerima pasokan sebanyak 150 juta barel minyak mentah sepanjang tahun ini.

Pemerintah sedang mempertimbangkan dua opsi mekanisme impor, melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara langsung atau melalui Badan Layanan Umum (BLU). Opsi BLU diharapkan dapat memberikan kemudahan lebih, terutama dari sisi skema pembiayaan.

Selain pengadaan minyak, Bahlil juga menyinggung kelanjutan kerja sama strategis antara Pertamina dan raksasa energi Rusia, Rosneft. Ia menekankan pentingnya percepatan investasi pada proyek Joint Venture (JV) tersebut agar manfaatnya segera dirasakan oleh ketahanan energi nasional.



"Memang saya dalam pertemuan kemarin di Rusia saya katakan bahwa salah satu isu yang kita harus selesaikan itu adalah kerjasama Pertamina sama Rosneft. Di mana lahannya itu sudah diselesaikan, bahkan investasi JV-nya pun sudah dilakukan," ucap Bahlil. 

Meski mempererat kerja sama dengan Rusia, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia tetap menjalankan kebijakan diversifikasi energi. Pertamina terus mencari sumber minyak mentah dari berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, Angola, dan Nigeria.

"Kita tidak boleh mengharap pada satu negara saja. Ketika negara tersebut ada masalah, itu akan berdampak pada kita. Kita cari mana yang paling efisien untuk kebutuhan nasional," tambahnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)