Tinggalkan Plastik Sekali Pakai, Ini Alternatif yang Lebih Cerdas

28 April 2026 14:57

Jakarta: Kenaikan harga plastik terjadi secara signifikan pada April 2026, dengan lonjakan mencapai 30 hingga 80 persen. Kondisi ini dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasokan bahan baku global.

Di Indonesia, ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik yang mencapai sekitar 60 persen turut memperparah situasi tersebut.

Mengutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga, Atik Purmiyati, menyebutkan bahwa pelaku UMKM menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya, khususnya sektor makanan dan minuman. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan pada kemasan plastik dalam operasional sehari-hari.
 



Di sisi lain, persoalan plastik di Indonesia juga berkaitan dengan isu lingkungan yang belum terselesaikan. Melansir Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2023, jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai sekitar 10 juta ton dengan hanya sekitar 11 persen yang berhasil didaur ulang, sementara 53 persen berakhir di tempat pembuangan akhir dan 36 persen lainnya mencemari lingkungan, termasuk perairan.

Alternatif Ramah Lingkungan

Di tengah kenaikan harga plastik dan meningkatnya masalah limbah, penggunaan tas belanja ramah lingkungan dinilai dapat menjadi solusi yang lebih berkelanjutan. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai, penggunaan tas berbahan kain seperti kanvas juga lebih efisien karena dapat digunakan berulang kali hingga ratusan kali.

Tas ramah lingkungan juga dikenal memiliki daya tahan tinggi dan mampu menahan beban berat, sehingga lebih ekonomis dalam jangka panjang sekaligus berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Tantangan Solusi Plastik

Melansir MIT Technology Review, plastik berbasis bio yang dianggap lebih ramah lingkungan justru memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan plastik berbasis fosil. Selain itu, produksinya yang bergantung pada bahan baku pertanian berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti persaingan dengan kebutuhan pangan.

Upaya daur ulang pun belum sepenuhnya menjadi solusi ideal. Metode daur ulang mekanis yang umum digunakan dapat menurunkan kualitas material seiring waktu, sehingga tidak dapat digunakan secara berulang tanpa batas. Sementara itu, daur ulang kimia juga menghadapi kendala, mulai dari potensi pencemaran lingkungan hingga rendahnya efektivitas dalam menghasilkan plastik baru.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Jessica Nur Faddilah)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)