Terjebak Karhutla dan Kelaparan, Tiga Orangutan di Kalteng Berhasil Dievakuasi

15 October 2026 23:32

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Tengah tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam keselamatan satwa langka yang dilindungi. Rusaknya vegetasi hutan memaksa sejumlah orangutan keluar dari habitat aslinya untuk bertahan hidup.

Di Kabupaten Kotawaringin Timur, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng bersama Orangutan Foundation International (OFI) dan aktivis lingkungan berhasil mengevakuasi seekor orangutan betina bernama Ira. Orangutan berusia sekitar 20 tahun dengan bobot 28 kilogram tersebut ditemukan dalam kondisi lemas dan kelaparan akibat terjebak di area bekas kebakaran hingga nekat masuk ke kawasan perkebunan warga untuk mencari makan.

"Kondisi saat ditemukan orangutan terjebak di areal bekas kebakaran. Kami melakukan kegiatan penyelamatan satu individu orangutan dengan umur diperkirakan sekitar 20 tahun dan berat 28 kg," terang Kepala BKSDA Pos Sampit, Muriansyah dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Kamis 15 Oktober 2026.
 



Pasca-evakuasi, Ira dibawa ke Balai Konservasi Wilayah 2 Pangkalan Bun untuk menjalani pemeriksaan medis intensif. Dokter hewan BKSDA, Ichlasul Khaerul, memastikan bahwa kondisi fisik Ira secara umum stabil dan tidak ditemukan cedera parah maupun luka tembak.

"Secara umum kondisi orangutan sehat. Tidak ditemukan patah tulang, luka, ataupun peluru di badannya. Langkah berikutnya kami akan melakukan pemeriksaan sampel darah di laboratorium untuk memutuskan penanganan selanjutnya," jelas Drh. Ichlasul.

Nasib serupa dialami orangutan jantan bernama Pace di Kabupaten Pulang Pisau. Pace dievakuasi oleh tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalteng dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng dalam kondisi menderita luka di bagian kaki akibat paparan api karhutla.

Sementara itu di Kelurahan Sei Gohong, Palangka Raya, petugas juga menyelamatkan orangutan bernama Sri yang terpojok di sekitar Sekolah Rakyat. Menyempitnya ruang hidup akibat pembakaran hutan membuat Sri terdesak dan berada sangat dekat dengan pemukiman serta aktivitas manusia.

Bagi Ira, Pace, dan Sri, proses evakuasi ini merupakan awal dari rangkaian penyelamatan yang panjang. Kelangsungan hidup dan kepastian pemulangan mereka ke alam liar kini sepenuhnya bergantung pada hasil tes kesehatan lanjutan serta keputusan BKSDA dalam menentukan lokasi habitat baru yang aman dari ancaman karhutla.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X