Duka Kehilangan Ayah Jadi Kekuatan Sofia Hafalkan 30 Juz Al-Qur’an

13 March 2026 00:09

Kehilangan orang tercinta sering kali menjadi titik terendah bagi seseorang. Namun, bagi Sofia Sahira, remaja asal Duri, Riau, duka mendalam atas kepergian sang ayah justru menjadi bahan bakar utama untuk melangkah maju. Sofia berhasil membuktikan baktinya dengan menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Perjalanan spiritual ini bermula dari sebuah amanah terakhir. Pada 2022, saat Sofia masih duduk di kelas 6 sekolah dasar, sang ayah memintanya untuk melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren agar bisa menghafal Al-Qur'an. Tak lama setelah permintaan itu disampaikan, sang ayah wafat akibat serangan jantung setelah sempat terjatuh di kamar mandi.

Kepergian sang ayah membawa tantangan ekonomi yang berat bagi keluarga. Meski demikian, sang ibu tetap teguh memegang janji kepada almarhum suaminya. Dengan bekerja sebagai pedagang di Riau, sang ibu berjuang mengumpulkan biaya agar Sofia bisa merantau ke Ciputat, Tangerang Selatan, untuk menimba ilmu di pesantren.

"Papa nyuruh Sofi masuk pondok biar Sofi bisa ngapal lagi. Dari situ Mama ngumpulin uang biar Sofi bisa ke Jakarta," kenang Sofia.

Motivasi terbesar Sofia adalah untuk membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia bukan lagi anak kecil yang cengeng, melainkan seorang pejuang yang mampu mewujudkan cita-cita keluarga.

"Kalau misalnya Papa masih ada, ingin ngomong itu bisa loh mewujudkan cita-cita Papa sama Mama. Sekarang Sofi sudah enggak kayak anak dulu yang suka cengeng," pungkasnya.
 

Baca juga: Kisah Inspiratif Almira, Remaja Asal Nganjuk Sukses Tiga Kali Juara 1 MHQ 30 Juz

Menghafal 30 juz bukanlah perkara mudah, terutama di masa awal. Namun, Sofia menggunakan metode Bait Qurani, sebuah teknik yang membuat proses menghafal terasa semudah menggerakkan jari tangan. Berkat ketekunan dan doa, ia berhasil menyelesaikan seluruh hafalan dalam waktu yang relatif singkat, yakni 1,5 tahun.

Kini, di usianya yang masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah, Sofia tidak hanya dikenal sebagai seorang Hafizah. Ia adalah santri berprestasi yang kerap menjuarai berbagai perlombaan. Bahkan, Sofia telah dipercaya untuk mengajar murid setingkat Madrasah Ibtidaiyah, membagikan ilmu yang telah ia dapati kepada generasi di bawahnya.

Bagi Sofia, setiap ayat yang ia lantunkan adalah bentuk baktinya kepada sang ayah yang telah tiada. Ia ingin menunjukkan bahwa meski tanpa kehadiran fisik sang ayah, ia tetap mampu tegak berdiri dan menjaga amanah yang dititipkan kepadanya.

Kisah Sofia Sahira menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi dan duka mendalam bukanlah penghalang, melainkan jembatan menuju kemuliaan bagi mereka yang memilih untuk terus melangkah dengan iman.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)