Kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu krisis air bersih yang serius. Guna meringankan beban masyarakat, TNI bersama Pemerintah Kabupaten Ketapang menyiagakan teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk mengubah air payau menjadi air siap konsumsi.
Kondisi kekeringan ini dirasakan langsung oleh warga di Desa Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan. Sudah hampir tiga bulan wilayah ini tidak diguyur hujan, yang mengakibatkan sumur dan parit warga mengering total.
Jika ada air yang tersisa di beberapa lokasi, kondisinya tidak layak konsumsi karena berasa asin dan keruh akibat intrusi air laut. Setidaknya, 133 kepala keluarga di wilayah tersebut kini sangat bergantung pada bantuan air bersih untuk kebutuhan mandi, mencuci, hingga minum.
"Selama panas ini, masyarakat selalu membutuhkan air bersih, air mandi, hingga air cuci. Kami sangat kekurangan air, alhamdulillah bersyukur sekali ada bantuan ini," kata salah satu warga setempat, Tiayah, dikutip dari tayangan Primetime News Metro TV, Senin, 7 September 2026.
Teknologi Mobil RO TNI Jadi Solusi
Untuk menanggulangi krisis ini, Kodim 1203/Ketapang mengerahkan satu unit mobil Reverse Osmosis (RO) bantuan dari Kodam XII/Tanjungpura (Yonzipur). Alat canggih ini mampu mengolah air payau atau air asin menjadi air bersih yang aman untuk langsung diminum.
Dandim 1203/Ketapang, Letkol Inf Zulkarnaen Galib, menjelaskan bahwa mobil RO tersebut memiliki kapasitas produksi yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan warga.
"Alat ini mampu menghasilkan sekitar 1.500 liter air per jam. Sudah diuji coba, air payau dan air asin bisa dinetralkan sehingga langsung bisa diminum dan tidak asin lagi," jelas Letkol Inf Zulkarnaen.
Ia menambahkan, distribusi air bersih ini akan dilakukan secara bergiliran ke sejumlah desa lain di Kabupaten Ketapang yang juga terdampak krisis air.
Rencana Jangka Panjang Pemkab
Menanggapi fenomena kekeringan tahunan ini, Bupati Ketapang Alexander Wilyo berharap teknologi serupa dapat diadopsi secara permanen oleh PDAM setempat.
"Saya berharap masalah air ini ke depan bisa ditangani oleh PDAM kita. Kami berencana mencari teknologi dan mengarahkan investasi daerah agar ada alat permanen di Ketapang yang mampu mengubah air asin menjadi air layak konsumsi, mengingat wilayah kita dekat dengan laut," tegas Alexander.
Kualitas Udara Memburuk
Selain krisis air, Kabupaten Ketapang saat ini masih menjadi wilayah dengan titik karhutla terbanyak di Kalimantan Barat. Hal ini berdampak buruk pada kualitas udara.
Berdasarkan data AQ Air, indeks kualitas udara (AQI) di Ketapang menyentuh angka 169, yang masuk dalam kategori Tidak Sehat. Konsentrasi polutan tercatat 16,1 kali lipat lebih buruk dari nilai panduan tahunan yang ditetapkan WHO. Warga diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak kesehatan akibat kabut asap yang menyertai
musim kemarau ini.