Melihat Kesibukan Produksi Kue Tutun Khas Imlek di Bandar Lampung

7 February 2026 16:38

Bandar Lampung: Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, produksi kue tutun atau kue keranjang di Bandar Lampung, Lampung meningkat tajam. Kue tradisional Tiongkok tersebut menjadi primadona, seiring melonjaknya permintaan masyarakat dan bergulirnya roda ekonomi lokal.

Suasana sibuk terlibat di rumah produksi kue tutun di Bandar Lampun. Sejak dua pekan menjelang Imlek, pesanan mulai memadati produsen. Tahun ini, permintaan tercatat lebih tinggi dibanding sebelumnya. Puncak penjualan umumnya terjadi pada sepekan terakhir sebelum perayaan Imlek.

Salah satu produsen yang mengalami lonjakan pesanan adalah rumah produksi kue keranjang Cap Teratai. Berlokasi di Jalan Sadewo Atas, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung.

Fasilitas tersebut telah berdiri sejak 1978 dan menjadi bagian dari sejarah panjang kue tutun di kota tersebut

Di balik bangunan yang berada di kawasan permukiman padat, proses produksi masih dilakukan secara tradisional. Pengawasan suhu dan waktu pemasakan dilakukan secara ketat untuk menjaga tekstur kenyal dan rasa manis khas kue tutun.

Hasan Kurniawan, pemilik rumah produksi kue tutun menjelaskan, pada hari biasa kapasitas produksi berksar 1.000 potong per hari. Namun saat mendekati puncak Imlek, jumlah produksi meningkat hingga 2.000 potong per hari. Menurut Hasan, sebagian besar pesanan datang dari Bandar Lampung. Namun demikian, permintaan juga datang dari luar daerah.

Di tengah tingginya permintaan, produsen tetap membatasi jumah produksi untuk menyesuaikan ketersediaan bahan baku dan menjaga kualitas. Kue tutun dipasarkan dengan harga Rp30 ribu per kg.

Menjelang imlek, kue tutun tak hanya menjadi simbol manisya tradisi tionghoa, namun juga penggerak ekonomi musiman bagi warga lokal.

Dengan perayaan Imlek 2026 jatuh pada Selasa, 17 Februari, produksi dan penjualan kue tutun diprediksi terus meningkat menjelang hari raya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Wijokongko)