Jakarta: Memasuki bulan Agustus, suasana di berbagai penjuru Indonesia mulai berubah. Gang-gang dihiasi umbul-umbul, gapura kampung dipercantik, dan suara riuh warga terdengar dari arena perlombaan. Panjat pinang, balap karung, hingga makan kerupuk pun kembali menjadi hiburan yang dinantikan setiap tahun.
Namun, tahukah kamu bahwa sejumlah lomba yang kini identik dengan perayaan 17 Agustus ternyata memiliki perjalanan panjang? Beberapa di antaranya bahkan sudah dikenal sejak masa kolonial dan kemudian mengalami perubahan makna setelah Indonesia merdeka.
Awal Lomba 17 Agustus
Perlombaan yang berkaitan dengan
perayaan kemerdekaan mulai marak digelar secara luas pada era 1950-an, tepatnya saat peringatan HUT ke-5 Republik Indonesia. Saat itu, Indonesia baru melewati masa revolusi fisik dan kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950.
Dengan kondisi fasilitas yang masih terbatas setelah perang, masyarakat menggunakan berbagai benda sederhana yang mudah ditemukan untuk membuat kegiatan perayaan. Dari kreativitas tersebut, perlombaan kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi perayaan kemerdekaan.
Pada awalnya, bentuk
perlombaan tidak seragam di seluruh Indonesia. Setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk memeriahkan kemerdekaan. Di Mojokerto, Jawa Timur, misalnya, masyarakat menggelar lomba poster bertema perjuangan dan lomba melukis di Taman Makam Pahlawan Gajah Mada pada 17 Agustus 1946. Sementara di Pontianak, Kalimantan Barat, perayaan HUT RI pada 1951 dimeriahkan dengan lomba menghias perahu motor dan lomba dayung.
Kemudian di Medan pada 1956, muncul perlombaan yang mulai menyerupai kegiatan Agustusan yang dikenal saat ini, seperti tarik tambang dan tarik piring. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, masyarakat di berbagai daerah memiliki kreativitas masing-masing dalam merayakan kemerdekaan.
Deretan Lomba Khas 17 Agustus
1. Panjat Pinang
Panjat pinang menjadi salah satu
perlombaan yang paling identik dengan perayaan 17 Agustus. Namun, permainan ini ternyata telah dikenal di Nusantara sejak awal abad ke-20 pada masa kolonial Belanda. Kala itu, permainan serupa dikenal dengan istilah De Klimmast.
Permainan ini juga sempat muncul pada era 1930-an, sebelum terhenti pada masa perang dan kembali dihidupkan pada awal 1980-an. Setelah Indonesia merdeka, panjat pinang berkembang menjadi bagian dari perayaan rakyat dan kemudian lekat dengan semangat kebersamaan.
2. Balap Karung
Balap karung juga memiliki sejarah panjang. Permainan ini sudah dikenal di Nusantara sejak awal abad ke-20 dan di Belanda dikenal dengan nama Zaklopen. Pada 1930, sekolah-sekolah anak pribumi menggelar lomba balap karung dan balap telur dalam perayaan ulang tahun ke-50 Ratu Wilhelmina.
Sampai sekarang, permainan serupa masih dikenal di Belanda dalam perayaan Hari Raja atau Koningsdag. Di Indonesia, balap karung kemudian berkembang menjadi salah satu permainan yang identik dengan perayaan kemerdekaan.
3. Lomba Makan Kerupuk
Lomba makan kerupuk mulai ramai menjadi bagian dari
perayaan HUT RI pada era 1950-an. Kerupuk sendiri telah menjadi salah satu makanan pendamping masyarakat pada masa krisis ekonomi pada 1930 hingga 1940-an karena harganya yang terjangkau.
Sementara itu, di Belanda terdapat permainan bernama Koekhappen, yakni permainan memakan kue yang digantung. Tradisi tersebut kemudian memiliki bentuk yang berbeda di Indonesia dan berkembang menjadi lomba makan kerupuk yang dikenal hingga sekarang.
Lomba Agustusan bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah. Berbagai kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan. Mulai dari menyiapkan perlombaan hingga mengikuti kompetisi, warga dapat terlibat dan bekerja sama tanpa memandang usia maupun latar belakang.
Bagi anak-anak dan remaja, perlombaan juga dapat menjadi sarana belajar sportivitas, disiplin, kejujuran, percaya diri, serta menerima kemenangan dan kekalahan.
Seiring perkembangan zaman, jenis
lomba Agustusan juga semakin beragam. Selain balap karung, panjat pinang, egrang atau bakiak, dan tarik tambang, kini muncul lomba pidato proklamasi, membaca puisi bertema nasionalisme, hingga membuat poster kemerdekaan.
Memasuki era digital, perayaan kemerdekaan juga merambah kompetisi e-sport dan lomba membuat konten bertema 17 Agustus di TikTok maupun Instagram. Artinya, bentuk perlombaan boleh berubah mengikuti zaman. Namun, semangat yang dibawa tetap sama, yaitu kebersamaan dan rasa syukur atas
kemerdekaan.