Jakarta: Potensi krisis energi global akibat gangguan jalur distribusi minyak dunia, seperti penutupan Selat Hormuz, kembali menjadi perhatian. Jalur ini merupakan salah satu rute paling krusial bagi pasokan energi dunia.
Dalam laporan terbaru JPMorgan tahun 2026, Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan ketahanan energi tertinggi. Dari 52 negara konsumen energi terbesar yang dianalisis, Indonesia menempati posisi kedua secara global.
Daftar Negara Paling Tahan Krisis Energi
Berikut lima negara dengan ketahanan energi tertinggi berdasarkan laporan tersebut:
1. Afrika Selatan (Skor 79 persen)
Afrika Selatan menempati posisi teratas.
Ketahanan energi negara ini ditopang oleh dominasi penggunaan batu bara domestik, sehingga tidak terlalu bergantung pada impor minyak global.
2. Indonesia (Skor 77 persen)
Indonesia berada di posisi kedua. Kombinasi sumber daya energi domestik seperti batu bara dan biodiesel, serta tingkat ketergantungan impor yang relatif rendah, menjadi faktor utama.
Fleksibilitas konsumsi energi dan produksi dalam negeri memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi potensi krisis global.
3. Tiongkok (Skor 76 persen)
Tiongkok mengandalkan diversifikasi energi dalam skala besar, mulai dari batu bara, nuklir, hingga energi terbarukan. Infrastruktur yang kuat juga mendukung stabilitas pasokan energi.
4. Amerika Serikat (Skor 70 persen)
Amerika Serikat memiliki kapasitas produksi minyak dan gas domestik yang tinggi. Revolusi energi shale membuat ketergantungan terhadap impor menjadi lebih rendah dibandingkan banyak negara lain.
5. Australia (Skor 68 persen)
Australia melengkapi daftar ini dengan cadangan energi yang besar, terutama batu bara dan gas. Letak geografisnya juga relatif aman dari gangguan distribusi global.
Faktor Penentu Ketahanan Energi
Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh cadangan minyak. Beberapa faktor utama yang berperan meliputi:
- Diversifikasi sumber energi
- Ketersediaan produksi domestik
- Ketergantungan terhadap impor
- Stabilitas infrastruktur distribusi
Negara yang memiliki kombinasi faktor tersebut cenderung lebih mampu bertahan saat terjadi gangguan pasokan global.
Ancaman dari Jalur Energi Global
Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi mengganggu distribusi energi dunia. Jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu, dampaknya bisa langsung terasa pada harga minyak, inflasi, hingga stabilitas ekonomi global.
Sobat MTVN Lens, laporan JPMorgan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam menghadapi potensi krisis energi global. Dengan dukungan sumber daya domestik dan diversifikasi energi, Indonesia dinilai mampu bertahan di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Muhammad Fauzan)