Jakarta: Panggung festival musik berskala global, Coachella 2026, yang digelar pada April ini menjadi saksi bisu aksi protes band rock asal Amerika Serikat, The Strokes. Kehadiran mereka di atas panggung tidak sekadar memuaskan dahaga rindu para penggemar akan karya musik mereka, tetapi juga disulap menjadi medium untuk menyuarakan kritik sosial dan politik secara terang-terangan.
Band yang digawangi oleh Julian Casablancas ini menyajikan penampilan yang sangat sarat pesan kemanusiaan dan protes terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Visual Gaza dan Sindiran untuk Amerika Serikat
Momen paling menyita perhatian penonton terjadi ketika The Strokes membawakan lagu yang berjudul 'Oblivius'. Layar raksasa yang berada di belakang panggung tiba-tiba menampilkan rentetan visual yang menyoroti berbagai isu kekerasan dan dugaan pelanggaran yang melibatkan pemerintah AS dan CIA, baik di level domestik maupun internasional.
Visual tersebut semakin intens dengan menampilkan kompilasi isu-isu sosial, mulai dari Gerakan hak sipil Black Lives Matter, hingga konflik berdarah di Iran dan Gaza.
Salah satu momen yang paling ramai diperbincangkan oleh warganet di media sosial adalah kemunculan teks berbunyi 'Last University Standing In Gaza' (Universitas Terakhir yang Berdiri di Gaza). Teks tersebut diiringi dengan visualisasi memilukan yang memperlihatkan detik-detik sebuah gedung universitas hancur lebur akibat ledakan. Atmosfer panggung pada saat itu dilaporkan terasa sangat tegang, emosional, dan dramatis, didukung oleh sapuan tata cahaya bernuansa oranye yang mendominasi.
Banjir Dukungan dari Penggemar
Aksi berani The Strokes yang menyenggol isu-isu sangat sensitif di panggung festival komersial sebesar Coachella justru menuai respons yang sangat positif. Banyak penggemar dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, membanjiri kolom komentar di media sosial dengan pujian dan rasa hormat (respect) atas sikap tanpa kompromi band tersebut.
Bukan Hal Baru bagi The Strokes
Bagi pengikut setia The Strokes, sikap vokal dan kritis ini sejatinya bukanlah hal yang mengejutkan. Sejak awal karier mereka, Julian Casablancas dan kawan-kawan memang dikenal kerap menyelipkan kegelisahan atas kondisi global ke dalam lirik dan karya musik mereka.
Sebagai contoh, lagu ikonis 'New York City Cops' dari album debut 'Is This It' pernah ditarik dari daftar putar versi Amerika Serikat pasca-tragedi 11 September karena dianggap terlalu sensitif. Lagu-lagu lainnya seperti 'Juicebox' dan 'You Only Live Once (2006)' juga sarat dengan nuansa keresahan generasi muda terhadap bayang-bayang perang Irak kala itu.
Lewat aksi terbarunya di Coachella 2026 ini, The Strokes kembali membuktikan identitas mereka sebagai band rock yang tidak hanya pandai mencetak hits, tetapi juga berani bersuara di tengah riuhnya panggung hiburan dunia. (Daffa Yazid Fadhlan)