23 October 2026 16:33
Kudus: Bermodalkan kaleng bekas dan barang-barang sederhana, seorang warga di Kudus, Jawa Tengah merakit alat untuk mengolah sampah plastik menjadi cairan yang diklaim menyerupai bensin. Namun hasil olahan ini masih dalam tahap uji coba dan belum melalui pengujian laboratorium.
Berawal dari sampah yang disetorkan warga ke Bank Sampah Karya Lestari, Benny Haryanto, warga Desa Rendeng, Kudus, kemudian merakit alat pengolah sampah plastik dengan memanfaatkan barang bekas.
Proses perakitan dilakukan secara mandiri selama sekitar dua minggu dengan berpedoman pada informasi yang diperoleh dari YouTube dan Facebook. Kaleng bekas biskuit digunakan sebagai wadah pemanas, sementara kaleng bekas obat nyamuk semprot dimodifikasi menjadi bagian dari sistem pendingin. Dalam prosesnya, sampah plastik dipanaskan hingga menghasilkan uap. Uap kemudian dialirkan melalui pipa dan didinginkan hingga berubah menjadi cairan.
Hasil awal berupa minyak mentah ini selanjutnya diproses kembali melalui penyulingan sederhana. Benny memperkirakan sekitar 300 gram sampah plastik dapat menghasilkan 40 liter cairan mirip bensin. Pemanasan membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, sedangkan penyulingan lanjutan memerlukan waktu sekitar 30 menit.
“Tiga kali proses. Yang penyulingannya ada dua kali. Kalau yang pertama itu sampah dipanaskan, bukan dibakar ya, dipanaskan di dalam kaleng. Nanti keluar uap. Kondensor, itu namanya pendingin itu yang dari kaleng obat nyamuk itu. Nanti uapnya itu akan menjadi cairan minyak. Kalau saya menyebutnya itu minyak mentah. Jadi belum tahu ini ikut solar atau ikut bensin atau ikut minyak tanah. Nah, dari situ terus disuling lagi. Nanti hasil sulingan itu lalu diproses lagi, disuling lagi, baru bisa digunakan di motor,” ujar Benny dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat 23 Oktober 2026.
Benny mengaku telah mencoba cairan hasil olahan tersebut pada sepeda motor pribadinya untuk perjalanan jarak pendek sekitar satu km pulang-pergi. Namun, uji coba tersebut belum dapat memastikan kualitas cairan sebagai bahan bakar kendaraan.
Pengujian laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui komposisi kimia, mutu, dan keamanannya bagi mesin maupun lingkungan.
Proses pemanasan plastik juga berisiko menghasilkan gas berbahaya dan memicu kebakaran jika tidak dilengkapi pengamanan yang memadai.
Benny berharap inovasi sederhana ini dapat membuka peluang pemanfaatan sampah plastik menjadi produk yang lebih berguna. Meski demikian, Ia menilai kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tetap menjadi langkah penting dalam pengelolaan sampah.