Pertamina Perkuat Kilang, Menuju Swasembada Energi

21 October 2026 14:35

Ketegangan geopolitik dan potensi gangguan pada jalur perdagangan minyak global seperti Selat Hormuz menjadi pengingat krusial akan pentingnya ketahanan energi nasional. Merespons tantangan tersebut, pemerintah terus mendorong target swasembada energi dengan memperkuat infrastruktur pengolahan minyak mentah di dalam negeri guna menekan ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sebagai langkah nyata, PT Pertamina (Persero) telah meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 lalu. Proyek strategis ini sukses meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel menjadi 360.000 barel per hari.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memaparkan bahwa peningkatan kapasitas kilang ini berdampak langsung pada penghematan devisa negara.

"Dengan RDMP ini kita bisa menghemat devisa kurang lebih sekitar Rp60 triliun karena bisa menambah 100.000 barel. Dari sisi bensin, kita bisa menghasilkan tambahan 5,8 juta kiloliter per tahun," papar Bahlil dikutip dari Zona Bisnis Metro TV, Rabu 21 Oktober 2026.

Bahlil menjelaskan, saat ini tingkat konsumsi bensin nasional mencapai 38 juta kiloliter per tahun, sementara produksi dalam negeri sebelumnya berada di angka 14,25 juta kiloliter. Dengan tambahan produksi dari RDMP Balikpapan, angka impor bensin dapat ditekan hingga tersisa 19 juta kiloliter. Pemerintah pun menargetkan penghentian impor bensin secara total pada 2028.

"Sementara untuk solar, alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden, mulai saat ini tidak ada lagi impor solar untuk ke depannya," tegasnya.
 



Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi antara hulu dan hilir yang ditopang oleh struktur pipa Senipah sepanjang 78 kilometer sebagai jalur pasokan bahan baku.

"Jantung dari RDMP ini adalah fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Di situ residu yang biasanya tidak diolah, kini bisa kita olah menjadi produk yang lebih bermanfaat," ujar Simon.

Lebih lanjut, Simon memastikan bahwa selain peningkatan kapasitas, produk BBM yang dihasilkan juga mengalami peningkatan kualitas menjadi standar Euro 5 yang jauh lebih ramah lingkungan dan rendah emisi. "Ini adalah tonggak sejarah dari ikhtiar panjang kita sebagai bangsa untuk meningkatkan kemandirian di bidang energi dan menuju swasembada energi," tambahnya.

Meski demikian, peningkatan kapasitas kilang ini tidak serta-merta menghapus tantangan ke depan. Ketersediaan minyak mentah sebagai bahan baku kilang harus terus dijaga melalui diversifikasi sumber pasokan dan efisiensi pengolahan.

Selain peran aktif Pertamina di sisi operasional, keterlibatan badan seperti Danantara dalam ekosistem pengelolaan aset BUMN juga menjadi bagian penting dari tata kelola aset strategis negara untuk memastikan kesinambungan dan keberhasilan proyek ini dalam menjaga pasokan energi domestik secara riil.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X