Bukan Sekadar Limbah, Minyak Jelantah di Depok Diolah Jadi Bahan Bakar Pesawat

16 August 2026 16:20

Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah dapur yang tidak berguna, kini mulai diubah menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bahan baku energi terbarukan di Kota Depok, Jawa Barat. Melalui program pengumpulan di tingkat kelurahan, limbah ini dikonsolidasikan untuk masuk ke rantai pasok bioenergi.

Inisiatif ini salah satunya berjalan di Kelurahan Pondok Petir melalui program Pusat Olah Sampah Mandiri (POM SS). Warga diajak untuk tidak lagi membuang minyak bekas memasak ke saluran air, melainkan mengumpulkannya untuk ditukar dengan nilai ekonomi tertentu.

"Dengan adanya program ini, penukaran jadi otomatis kita juga jadi lebih hemat lagi. Selain itu, ini juga sebagai bentuk kita untuk melestarikan lingkungan," kata ibu rumah tangga, Mayta, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Minggu, 16 Agustus 2026.

Antusiasme Warga Meningkat


Ketua TP PKK Kota Depok, Siti Barkah Hasanah, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat luar biasa. Tercatat, dalam waktu dua bulan saja, warga berhasil mengumpulkan hingga puluhan ribu liter minyak jelantah.

"Saya tidak menyangka, ternyata dalam waktu dua bulan kami bisa mengumpulkan 45.300 liter dari partisipasi masyarakat. Bukan sekadar jumlahnya, tapi bagaimana mereka peduli terhadap lingkungan sehingga limbah jelantah bisa membawa berkah dan nilai ekonomi bagi keluarga," jelas Siti Barkah.

Saat ini, pengelolaan jelantah di Depok sudah menjangkau 63 kelurahan. Kader PKK berperan aktif menjemput bola dan mengedukasi warga mengenai pentingnya pemanfaatan kembali limbah minyak goreng.
   

Menjadi Bahan Bakar Pesawat


Minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya dikonsolidasikan oleh pihak ketiga untuk masuk ke tahap penyaringan, pengangkutan, dan penyimpanan sebelum dikirim ke pengolah (offtaker).

CEO Greenia, Al Falaq Arsendatama, menjelaskan bahwa jelantah tersebut masuk ke dalam rantai pasok biofuel atau bahan bakar alternatif. Melalui proses teknologi tinggi, minyak bekas ini bisa diubah menjadi biodiesel hingga bioavtur.

"Minyak ini nantinya akan diproses menjadi bioavtur atau bahan bakar pesawat, maupun menjadi biodiesel. Kami menggunakan sistem traceability (keterlacakan) untuk memastikan bahan baku memenuhi standar internasional," kata Al Falaq.

Meski membutuhkan investasi yang tidak kecil di setiap tahapannya, Al Falaq menekankan bahwa dampak dari program ini akan sangat berkelanjutan (sustainable) bagi lingkungan dan ketahanan energi nasional.

Gerakan dari dapur rumah tangga ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah yang tepat tidak hanya menjaga ekosistem tetap bersih, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem energi terbarukan di Indonesia.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X