Jakarta: Cuaca panas ekstrem di Tanah Suci menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah calon haji. Kondisi suhu tinggi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama dehidrasi, sehingga jemaah diimbau lebih waspada dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Kepala Seksi Kesehatan PPIH Daerah Kerja Madinah, Enny Nuryanti, mengingatkan bahwa dehidrasi merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami jemaah selama musim haji.
Menurutnya, kondisi ini kerap terjadi karena sebagian jemaah mengurangi
konsumsi air minum. Hal tersebut biasanya dilakukan karena kekhawatiran akan terlalu sering buang air kecil, padahal justru dapat memperburuk kondisi tubuh.
“Jemaah dianjurkan tetap minum dengan pola sedikit tetapi sering, agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman,” ujar Enny.
Selain menjaga asupan cairan, jemaah juga diimbau untuk tidak memaksakan aktivitas fisik secara berlebihan di tengah suhu panas. Jika mengalami keluhan kesehatan, jemaah diminta segera melapor kepada petugas kesehatan.
Enny juga menyarankan tambahan asupan seperti oralit untuk membantu menjaga hidrasi tubuh. Di samping itu, jemaah perlu memastikan waktu istirahat yang cukup, yakni sekitar 6 hingga 8 jam per hari, serta mengonsumsi makanan bergizi yang telah disediakan oleh panitia.
Sebagai langkah pencegahan, penggunaan alat pelindung diri juga penting, seperti topi, kacamata, masker, serta menjaga kelembapan kulit dengan lotion. Jemaah juga dianjurkan membawa camilan ringan saat beraktivitas, terutama ketika menuju masjid.
Dengan menjaga pola hidrasi, asupan nutrisi, dan kondisi fisik, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih aman, sehat, dan lancar di tengah cuaca ekstrem.