3 January 2026 23:27
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pengumuman menggemparkan dunia internasional pada Sabtu 3 Januari 2026. Melalui akun media sosialnya, Trump mengklaim bahwa pasukan militer AS telah berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan membawanya keluar dari negara tersebut.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah ibu kota Caracas diguncang serangkaian ledakan dahsyat yang menandai dimulainya operasi militer skala besar Amerika Serikat.
Dalam unggahannya di platform Truth Social dan X (@realDonaldTrump), Trump menyebut operasi ini sebagai kesuksesan besar yang melibatkan penegak hukum AS.
"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang telah ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan Penegak Hukum AS," tulis Trump.
Klaim ini menandakan eskalasi puncak dari ketegangan kedua negara, setelah sebelumnya AS melancarkan serangan udara dengan dalih operasi anti-narkoba dan pengamanan jalur minyak.
Nasib Maduro ini berbanding terbalik dengan sikap yang ia tunjukkan sesaat sebelum serangan terjadi. Dalam wawancara terakhirnya di televisi nasional Venezuela, Maduro justru menunjukkan sinyal lunak dan keterbukaan diplomatik.
Ia menyatakan siap bernegosiasi dengan Amerika Serikat, termasuk membuka pintu bagi investasi perusahaan minyak AS seperti Chevron.
"Petroleos de Venezuela (PDVSA) siap untuk investasi AS seperti Chevron, kapan pun dan di mana pun mereka mau," ujar Maduro dalam wawancara tersebut.
Namun, tawaran negosiasi itu tampaknya tidak diindahkan oleh Washington yang memilih jalur operasi militer untuk menggulingkan kekuasaan Maduro secara paksa.