Mengenal Lifestyle Inflation, Penyebab Gaji Naik tapi Tabungan Jalan di Tempat-Edukasi Ekonomi

Eko Nordiansyah • 27 September 2026 09:53

Jakarta: Mendapat kenaikan gaji biasanya menjadi kabar yang menyenangkan. Penghasilan bertambah, ruang untuk memenuhi kebutuhan pun semakin besar. Namun, pernahkah setelah gaji naik justru merasa kondisi keuangan tidak banyak berubah?

Alih-alih tabungan bertambah, pengeluaran malah ikut meningkat. Standar makan berubah, kendaraan yang digunakan semakin mahal, hingga keinginan untuk membeli barang baru semakin sering muncul. Kondisi seperti ini dikenal dengan istilah lifestyle inflation.

 

Apa Itu Lifestyle Inflation?

Lifestyle inflation adalah kondisi ketika pengeluaran meningkat seiring dengan bertambahnya pendapatan. Sederhananya, semakin besar penghasilan, semakin tinggi pula standar gaya hidup yang dijalani.

Sebagai contoh, ketika masih mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan, seseorang mungkin terbiasa makan di warung sederhana. Setelah penghasilannya naik menjadi Rp10 juta, kebiasaan tersebut bisa berubah dengan lebih sering makan di restoran atau tempat yang lebih mahal.

Hal serupa dapat terjadi pada kebutuhan lainnya. Seseorang yang sebelumnya menggunakan transportasi umum bisa mulai mengambil cicilan kendaraan setelah penghasilannya meningkat. Begitu pula dengan penggunaan gadget. Kenaikan gaji dapat membuat seseorang merasa memiliki kemampuan lebih untuk mengganti ponsel dengan model terbaru, meskipun perangkat yang lama sebenarnya masih berfungsi dengan baik.

Jika pola tersebut terus terjadi, kenaikan pendapatan tidak otomatis membuat kondisi keuangan menjadi lebih kuat. Sebab, peningkatan pemasukan diikuti dengan peningkatan pengeluaran.

Kenapa Lifestyle Inflation Bisa Terjadi?

Ada beberapa hal yang dapat mendorong seseorang mengalami lifestyle inflation, di antaranya:

1. Self-reward

Setelah bekerja keras dan mendapatkan kenaikan gaji, seseorang mungkin merasa berhak memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Keinginan tersebut sebenarnya wajar, tetapi bisa menjadi masalah jika self-reward dilakukan terlalu sering atau melebihi kemampuan finansial.

2. FOMO

Melihat teman atau orang lain membeli barang baru, pergi berlibur, atau menjalani gaya hidup tertentu dapat memunculkan keinginan untuk melakukan hal yang sama. Dorongan untuk tidak merasa tertinggal ini dapat membuat pengeluaran bertambah.

3. Tidak memiliki rencana keuangan

Tanpa batas pengeluaran dan tujuan keuangan yang jelas, kenaikan pendapatan lebih mudah diikuti dengan peningkatan gaya hidup. Uang tambahan yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan atau investasi akhirnya habis untuk memenuhi berbagai keinginan.

 

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Kenaikan gaji tidak harus selalu diikuti dengan kenaikan gaya hidup. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mempertahankan batas pengeluaran meskipun pendapatan bertambah.

Saat mendapatkan penghasilan lebih besar, kebutuhan tetap dapat menjadi prioritas. Sebagian tambahan pendapatan juga bisa langsung dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing.

Dengan begitu, kenaikan pendapatan tidak hanya terasa dari kemampuan membeli lebih banyak barang, tetapi juga dari meningkatnya kemampuan membangun kondisi finansial yang lebih kuat.

Nah, kenaikan gaji memang bisa memberikan ruang finansial yang lebih besar. Namun, kalau setiap kenaikan pendapatan langsung diikuti dengan kenaikan pengeluaran, tabungan bisa saja tetap jalan di tempat. Karena itu, penting untuk memastikan gaya hidup bertumbuh secara terukur, sementara kondisi keuangan juga ikut berkembang.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Eunike Michelle Gultom)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X