Ramai Fenomena Downgrade Lifestyle, Pakar Soroti Penurunan Daya Beli Masyarakat

8 October 2026 13:24

Fenomena penurunan gaya hidup atau downgrade lifestyle yang ramai diperbincangkan di media sosial dinilai bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan fakta riil di tengah masyarakat. Perubahan perilaku ini dipicu oleh kombinasi antara penurunan daya beli masyarakat dan pergeseran kesadaran finansial yang lebih mengutamakan fungsi ketimbang gengsi.

Financial Educator, Windi Widiastuty, menjelaskan bahwa meski data statistik menunjukkan konsumsi masyarakat masih tumbuh sebesar 5,6 persen, realitas di lapangan memperlihatkan masyarakat mulai menyesuaikan pola belanjanya dengan kemampuan dompet.

"Konsumen itu tetap memenuhi hidupnya, hanya disesuaikan dengan kemampuan finansialnya dengan mencari alternatif biaya yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Kalau saya lihat sih alternatif dari berbagai downgrade lifestyle ini ada berbagai macam ya. Mungkin mereka melakukannya dengan cara menurunkan harga, menurunkan spesifikasi, maupun menurunkan frekuensi," jelas Windi dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Kamis, 8 Oktober 2026.

Windi memetakan bahwa tren downgrade lifestyle ini dilandasi oleh dua faktor utama: faktor keterpaksaan ekonomi dan faktor kesadaran (mindful consumption).
 



Di satu sisi, sebagian masyarakat terpaksa memangkas standar konsumsi karena penghasilan tetap sementara kebutuhan hidup terus membengkak. Di sisi lain, kelompok generasi muda seperti Gen Z mulai menyadari bahwa nilai sebuah barang tidak lagi ditentukan semata oleh merek atau gengsi sosial.

"Ada juga sebagian masyarakat yang terutama untuk Gen Z dan anak muda, itu mereka melakukan downgrade karena memang kesadaran. Mereka sadar bahwa value dan fungsi itu lebih penting dibandingkan hanya sekadar gengsi. Memahami bahwa kalau bisa membeli barang harga Rp200 ribu dengan nilai yang sama dengan Rp1 juta, kenapa aku harus membayar lima kali lipat?" tuturnya.

Lebih lanjut, Windi menilai fenomena ini dapat menjadi sistem peringatan dini (early warning system) bagi kondisi perekonomian nasional. Meski indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi dan angka penjualan kendaraan tampak stabil di permukaan, beban riil yang ditanggung masyarakat justru terlihat dari lonjakan transaksi pembiayaan dan utang.

"Kalau saya analogikan, masyarakat itu seperti bebek yang sedang berenang. Di permukaan terlihat tenang, tapi di bawahnya kita tidak tahu seberapa berat mereka untuk mengayuh. Karena kalau kita lihat dari sisi lain, penggunaan pinjol itu semakin tinggi. Dan yang paling menarik, ada data bahwa penggunaan Pegadaian itu meningkat sampai dengan 50 persen. Artinya sumber dana masyarakat untuk belanja itu bisa jadi utang atau menggadaikan," tegas Windi.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X