13 October 2022 10:56
Tenun ikat karya ibu-ibu di Desa Wisata Umauta ditargetkan bisa menembus pasar internasional. Pemerintah pusat diharapkan bisa membantu promosi sanggar budaya di desa ini dalam upaya mendongkrak perekonomian warga.
Proses pembuatan satu helai kain tenun ikat memakan waktu yang tidak sebentar. Butuh ketekunan dan kesabaran hingga tenun ikat selesai dan siap dipasarkan.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur pun memuji ketekunan para ibu di Desa Wisata Umauta, Nusa Tenggara Timur. Hal itu disampakan di sela kunjungan stand pembuatan tenun ikat tradisional.
Menariknya, para pelaku pembuat tenun ikat di Desa Wisata Umauta tidak hanya dilakukan oleh ibu-ibu, melainkan dengan kaum muda milenial. Hal itu guna proses regenerasi kepada kaum muda dalam kegiatan menenun di desa ini.
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Vinsensius Jemadu mengatakan, salah satu yang menarik dari desa ini adalah ketekunan yang ditunjukan kaum ibu dan semangat untuk mengerjakan proses tenun ikat hingga selesai.