Tak Terlupakan! Ini 5 Banjir Paling Parah Sepanjang Sejarah Indonesia

18 January 2026 12:27

Jakarta: Cuaca ekstrem kerap terjadi di wilayah beriklim tropis, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut membuat bencana banjir menjadi peristiwa yang berulang di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun secara rutin mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat cuaca ekstrem melanda.

Banjir tidak hanya dipicu oleh faktor alam, seperti curah hujan tinggi, tetapi juga oleh faktor manusia, antara lain pembuangan sampah sembarangan, penggundulan hutan, serta buruknya tata kelola lingkungan. Sepanjang sejarah, Indonesia telah mengalami sejumlah banjir besar yang menimbulkan dampak luas, baik korban jiwa maupun kerugian ekonomi.
 

 

Deretan Banjir Terparah di Indonesia

Melansir dari berbagai sumber, berikut deretan banjir terparah yang pernah terjadi di Indonesia.

1. Banjir Jambi (1955)

Banjir besar melanda Jambi pada Januari hingga Februari 1955 dan tercatat sebagai salah satu banjir terparah pada masanya. Sekitar 80 persen wilayah Jambi terendam akibat hujan deras yang turun selama 10 hari, mulai 28 Januari 1955.

Tingginya curah hujan menyebabkan debit Sungai Muara Tembesi meningkat hingga empat meter. Akibatnya, ribuan rumah terendam dan masyarakat terpaksa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.

2. Banjir Bahorok (2003)

Banjir bandang terjadi di kawasan Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 2 November 2003. Peristiwa ini menewaskan 157 orang, sementara 82 orang lainnya dilaporkan hilang.

Kerusakan hutan di wilayah hulu akibat pembalakan liar disebut sebagai penyebab utama bencana. Hilangnya daya serap tanah membuat air hujan langsung meluap dan menghantam permukiman warga.

3. Banjir Jakarta (2007)

Ibu Kota Indonesia juga pernah mengalami banjir ekstrem pada 2007. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta menyebabkan hampir 60 persen wilayah DKI Jakarta terendam.

Air sungai meluap di 13 titik aliran sungai, dengan ketinggian mencapai lima meter di sejumlah lokasi. Sebagai pusat perekonomian nasional, banjir ini menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar, diperkirakan mencapai Rp4,3 triliun.

4. Banjir Wasior (2010)

Banjir bandang melanda Wasior, Papua Barat, pada 2010 akibat hujan deras yang turun sepanjang hari. Kondisi diperparah oleh kerusakan hutan di kawasan tersebut, yang memicu meluapnya Sungai Batang Salai dari Pegunungan Wondiwoy.

Bencana ini menyebabkan kerusakan parah pada berbagai infrastruktur, mulai dari bandara, rumah warga, rumah sakit, jembatan, hingga sejumlah gereja. Tercatat 158 orang meninggal dunia dan 145 orang lainnya dilaporkan hilang.

5. Banjir Sumatera (2025)

Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada 2025, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar tiga juta orang terdampak dalam bencana ini.

Setelah banjir surut, banyak akses jalan terputus sehingga sejumlah daerah terisolasi dan sulit dijangkau. Penyaluran bantuan pun terpaksa dilakukan melalui jalur udara. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp68,67 triliun. Hingga 3 Desember 2025, tercatat 770 korban jiwa meninggal dunia, sekitar 500 orang dinyatakan hilang, dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal.
 
Bencana ini disebut sebagai salah satu banjir paling parah sepanjang sejarah Indonesia.

Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Upaya pencegahan bencana ekstrem memerlukan peran semua pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah. Tanpa kesadaran bersama, risiko bencana serupa akan terus berulang dan berpotensi menimbulkan korban yang lebih besar di masa depan.

(Adrian Bachtiar)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)