Begini Cara Perajin Keripik Tempe di Jaksel Hadapi Kenaikan Bahan Baku

11 June 2026 11:23

Lonjakan harga bahan baku memaksa perajin keripik tempe di Kampung Tempe, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mencari berbagai cara untuk mempertahankan usahanya. Kenaikan harga kedelai impor, tepung sagu, hingga bahan kemasan membuat biaya produksi meningkat hingga 20-30 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Meski menghadapi tekanan biaya yang semakin besar, para pelaku usaha memilih tidak menaikkan harga jual secara signifikan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pelanggan, terutama para reseller yang menjadi pasar utama produk keripik tempe.

Salah satu perajin, Rita, mengaku kenaikan harga bahan baku membuat margin keuntungan semakin menipis. Namun, ia hanya menaikkan harga jual sekitar Rp5 ribu agar produknya tetap terjangkau di pasaran.

"Untuk kenaikan harga jualnya sih rata-rata cuma dinaikin Rp5 ribu karena takut juga konsumen nggak mampu untuk jualnya lagi, karena rata-rata di sini itu reseller," ujar Rita dalam Program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 11 Juni 2026. 

Selain menyesuaikan harga, sejumlah perajin juga mengurangi jumlah produksi untuk menghindari penumpukan stok yang berisiko merugikan ketika daya beli masyarakat sedang melemah.

Strategi lain dilakukan dengan mengurangi bobot produk tanpa mengubah kualitas. Perajin keripik tempe, Joko, mengatakan langkah tersebut menjadi pilihan agar usaha tetap berjalan di tengah melonjaknya harga kedelai yang kini mencapai sekitar Rp1,13 juta per kuintal dari sebelumnya sekitar Rp920 ribu per kuintal.

"Untuk menyiasati kita sebagai pengrajin tempe, yang pertama sudah pasti mengurangi yang semula satu kilo menjadi sekitar 970 gram," kata Joko.

Kampung Tempe Kebayoran Baru yang berdiri sejak 2011 saat ini menjadi tempat bernaung sekitar 37 pelaku UMKM yang menggantungkan hidup dari produksi tempe dan berbagai produk olahannya. Hampir seluruh perajin di kawasan tersebut merasakan dampak kenaikan harga bahan baku.

Para pelaku UMKM berharap pemerintah segera merealisasikan rencana subsidi kedelai agar beban produksi dapat berkurang. Mereka menilai dukungan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan usaha, mempertahankan daya saing produk, serta melindungi pelaku usaha kecil dari gejolak harga bahan baku yang terus meningkat.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)