12 June 2026 11:01
Amerika Serikat (AS) menuai sorotan akibat adanya dugaan diskriminasi dalam Piala Dunia 2026,. Kebijakan pengamanan serta aturan visa yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump menuai kecaman, karena dinilai menyudutkan pihak-pihak tertentu. Termasuk Timnas Iran, para penggemarnya, hingga wasit asal Somalia. Langkah ini dianggap sebagai bentuk politisasi olahraga yang dapat merusak sportivitas turnamen.
"Sejauh ini pemerintahan Trump konsisten dengan satu narasi yaitu kebijakan visa bukanlah diskriminasi, melainkan untuk alasan keamanan nasional. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan di hadapan Komite apropriasi DPR AS bahwa yang dipermasalahkan itu bukan atlet, tapi mereka tidak akan mengizinkan orang-orang yang mereka ketahui tidak punya kaitan dengan olahraga dan memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam yang oleh pemerintah Amerika Serikat itu dikategorikan sebagai kelompok teroris," kata Jurnalis Virginia Gunawan dalam tayangan Metro Pagi Primetime Metro TV, Jum'at 12 Juni 2026,
Namun, kebijakan itu menuai kontroversi karena dianggap menimbulkan perlakuan berbeda terhadap peserta dan pendukung dari negara tertentu. Virginia mengungkapkan adanya kontradiksi di internal pemerintahan AS. Sebelumnya, Rubio disebut menjanjikan bahwa petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) tidak akan ditempatkan di stadion selama Piala Dunia. Akan tetapi, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS kemudian mengonfirmasi bahwa agen ICE tetap akan hadir di sejumlah stadion dan tidak menutup kemungkinan melakukan penindakan penangkapan.
Kritik juga datang dari sejumlah tokoh politik Amerika Serikat. Wali Kota New York, Shahana Mamdani, menjadi salah satu figur yang paling vokal menentang kebijakan tersebut. Selain itu, mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menilai penolakan terhadap wasit asal Somalia, Omar Abdul Qadir Artan, sebagai keputusan yang kontraproduktif dan berpotensi merusak citra turnamen internasional.