Berburu Kuliner di Halal Food Festival Muharram 1448 H, Ada Bir Pletok Legendaris!

15 June 2026 21:56

Kemeriahan malam puncak Festival Muharram 1448 Hijriah di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, tidak hanya menyajikan panggung religi yang megah. Acara yang digelar Pemprov DKI Jakarta ini juga menjadi panggung besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lewat zona khusus Halal Food Festival.

Berbagai stan makanan dari seluruh penjuru Jakarta tampak dipadati warga yang ingin berburu kuliner tradisional maupun modern, sekaligus merayakan momentum menyambut HUT ke-499 Kota Jakarta. Salah satu yang mencuri perhatian adalah stan minuman legendaris khas Betawi, Bir Pletok.

Reni, salah seorang pelaku UMKM asal Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, turut memboyong produk andalannya ke festival ini. Ia menawarkan racikan Bir Pletok tradisional dalam dua varian kemasan modern, yaitu siap minum berukuran 250 ml dan varian serbuk instan dalam cangkir maupun saset. Dibanderol dengan harga bersahabat mulai dari Rp15.000 hingga Rp40.000, produk ini menjadi salah satu primadona stan.

Proses pembuatan varian serbuk rupanya membutuhkan ketelatenan ekstra. Sari murni perasan jahe harus dimasak di dalam kuali besar bersama rempah-rempah pilihan seperti kapulaga, kayu secang, kayu manis, biji pala, hingga serai.

"Semua bahan dimasak sampai mendidih, lalu disaring dan diaduk terus bersama gula sampai mengkristal menjadi butiran bubuk atau granul. Proses masaknya saja memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam," ujar Reni dikutip dari Live Event Festival Muharram 1448 Hijriah, Metro TV.

Filosofi di Balik Nama 'Bir Pletok'

Tidak sedikit pengunjung, terutama generasi muda, yang penasaran dengan asal-usul nama minuman hangat ini. Reni membagikan kisah unik yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Betawi.

"Zaman dulu orang Betawi yang mayoritas muslim kan tidak boleh minum minuman haram. Akhirnya mereka berinisiatif membuat minuman rempah yang dimirip-miripin dengan birnya orang-orang Belanda. Hangatnya dapat, warna merahnya didapat alami dari kayu secang. Jadi ini jamu yang membawa manfaat, bukan mudarat," kata Reni.

Mengenai nama "Pletok", hal tersebut berasal dari cara penyajian jadul. Sebelum gelas kaca populer, masyarakat Betawi mencampur ramuan rempah ini dengan es batu di dalam tabung bambu, kemudian dikocok hingga menimbulkan bunyi 'pletok-pletok'.

(Sofia Zakiah)