Berawal dari keprihatinan melihat tumpukan sampah kumuh dan bau menyengat, warga RW 09 Kelurahan Jatisari, Kota Bekasi, berhasil menciptakan terobosan luar biasa. Sebuah lokasi bekas Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar kini disulap menjadi kawasan ramah lingkungan yang mampu mengolah sampah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) ini, proses dimulai dengan mengumpulkan sampah dari mitra pemulung yang kemudian dipisahkan berdasarkan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi bubur sampah untuk menghasilkan gas metana, sedangkan sampah anorganik khususnya plastik dijadikan bahan baku utama pembuatan BBM.
Kepala Divisi Pemasaran dan Ekonomi TPS 3R Jatisari, Herman, menjelaskan bahwa jenis plastik yang optimal diolah menjadi BBM adalah polyester, polypropylene (PP), polyethylene (PE), dan styrofoam. Agar hasilnya maksimal, sampah plastik harus dipastikan bersih dari kotoran sebelum diikat dan dipres untuk dimasukkan ke dalam mesin pirolisis.
"Untuk proses pirolisis ini kita membutuhkan waktu kurang lebih antara 6 sampai 7 jam untuk memproses 20 kilogram plastik. Dari 20 kilogram plastik yang kita proses, itu akan mendapatkan antara 16 sampai 17 liter BBM
solar dan kurang lebih setengah liter BBM premium," jelas Herman dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin 3 Agustus 2026.
Adopsi Teknologi BRIN dan Efisiensi Operasional
Proses pengolahan di Jatisari menggunakan mesin berstandar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menggunakan teknologi pemisahan berat jenis gas. Gas yang berat akan menghasilkan solar pekat, gas yang lebih ringan menjadi solar jernih, dan gas paling ringan menjadi premium.
Warga Jatisari bahkan berhasil mengadopsi teknologi ini secara mandiri dengan menciptakan mesin bernama Pirojet. Kunci utama keberhasilan proses ini terletak pada kontrol suhu pembakaran agar BBM yang dihasilkan tidak membeku dan gagal digunakan.
Hasil BBM berupa solar dan premium dari pengolahan ini kemudian digunakan kembali untuk menghidupkan mesin-mesin operasional di TPS, sehingga pengelola dapat menghemat biaya pengeluaran BBM.
Dampak Ekonomi
Kehadiran TPS 3R ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga ekonomi kerakyatan. Ketua RW 09 Jatisari, Udi Mauludy, menyebutkan bahwa tempat ini mempekerjakan 15 mitra pemulung sebagai operator yang mendapat penghasilan dari sampah yang mereka kumpulkan.
"Selain mengurangi sampah, mereka juga dapat penghasilan. Saya punya cita-cita tempat ini bisa menjadi ekowisata, ada kegiatan perahu dan UMKM, sehingga bisa menjadi sarana edukasi lingkungan bagi warga," ungkap Udi.
Inovasi pengolahan sampah menjadi BBM ini dinilai sebagai langkah konkret menekan volume sampah di Indonesia yang hampir 30 persennya didominasi oleh plastik. Meski menghadapi tantangan dalam hal penyediaan bahan baku dan kontrol operasional, warga Jatisari berharap inovasi ini dapat direplikasi oleh TPS lain untuk mewujudkan visi
zero waste secara nyata.