27 August 2026 12:35
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyalurkan lebih dari 200.000 masker guna mengantisipasi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bantuan medis ini diprioritaskan untuk enam provinsi yang menjadi fokus utama penanganan karhutla di Indonesia.
Keenam wilayah prioritas tersebut meliputi Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di antara wilayah-wilayah ini, Kalimantan Barat tercatat sebagai area terdampak karhutla paling luas tahun ini, dengan indikasi lahan terbakar mencapai lebih dari 38.000 hektar di 2.610 titik panas (hotspot).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, mengonfirmasi bahwa pasokan masker serta alat medis pernapasan telah dikirimkan secara bertahap ke daerah terdampak.
"Kami mendapat informasi dari Kementerian Kesehatan sudah mengirimkan ratusan ribu masker, 200.000 lebih sebenarnya yang sudah kami dapatkan," ujar Berton dalam tayangan Breaking News Metro TV, Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menambahkan bahwa selain masker, pemerintah juga mendistribusikan alat oxygen concentrator serta berbagai peralatan medis pernapasan lainnya. Langkah ini diambil agar warga yang rentan atau sudah menderita gangguan pernapasan dapat segera ditangani dengan baik.
"Masker-masker ini sudah dibagikan ke dinas-dinas kesehatan, dan dinas kesehatan ke lokasi-lokasi atau sekolah-sekolah atau ke desa-desa yang dekat dengan Puskesmas yang bersangkutan," jelas Berto.
Tantangan El Nino dan Karakteristik Lahan Gambut
Penyebaran api dan asap pada karhutla tahun ini diperparah oleh fenomena El Nino. Berdasarkan data BNPB, tingkat kekeringan pada tahun 2026 tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2025, 2004, dan 2003.
Hari Tanpa Hujan (HTH) diperkirakan berlangsung sangat panjang dan diprediksi baru akan berakhir pada awal Oktober mendatang. Kondisi cuaca yang kering dan tiupan angin kencang membuat api sangat mudah meluas.
Tantangan utama di lapangan adalah karakteristik lahan gambut tebal di wilayah-wilayah prioritas tersebut yang sulit dipadamkan.
"Gambut itu adalah batu bara muda, jadi batu bara muda ini ketika kena api mesti terbakar seluruhnya kalau tidak dipadamkan dengan air. Tantangannya ketika tebalnya sampai 2-4 meter ke bawah, di permukaan sudah padam di bawah belum tentu padam," papar Berton.
Upaya Pemadaman Darat dan Udara
Untuk mengatasi keterbatasan air di musim kemarau, BNPB menjalankan instruksi Presiden dengan membuat sumur-sumur darurat di sekitar lokasi kebakaran. Mesin pompa air serta selang-selang khusus juga telah dikirimkan ke berbagai titik kebakaran untuk mempermudah akses air bagi petugas.
Meskipun operasi udara dilakukan sebagai pendukung, BNPB menekankan bahwa operasi darat tetap menjadi tumpuan utama. Saat ini, lebih dari 10.000 hingga 11.000 personel gabungan telah dikerahkan ke darat untuk melokalisir titik api. Selain itu, pembuatan kanal-kanal air terus dikebut untuk membasahi lahan dan mendinginkan area bekas terbakar.
Di sisi lain, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode penyemaian bibit garam di atmosfer mulai membuahkan hasil. Dalam 2-3 hari terakhir, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan telah turun di wilayah timur Kalimantan Barat, yang diharapkan dapat membantu proses pemadaman secara signifikan.