Puluhan aktivis pro Palestina di Madrid menggelar aksi di depan kedutaan Inggris untuk memperingati 108 tahun deklarasi
Balfour. Dalam aksi ini, para demonstran membawa spanduk bertulis 'Palestina libre' (Palestina Merdeka) dan 'Palestina sin colonos' (Palestina tanpa pemukim Israel) sekaligus mengutuk tindakan represi pemerintah Inggris terhadap aktivis propalestina.
Sejumlah orang dalam aksi tersebut menyerukan perlawanan terhadap penindasan mereka. menegaskan jika represi di Inggris dibiarkan maka akan menyebar ke negara lain. Aksi ini terjadi setelah ratusan orang ditangkap dalam demonstrasi di London pada Oktober karena menunjukkan dukungan terhadap kelompok Palestine Action yang telah dilarang oleh pemerintah Inggris sejak Juli di bawah Undang-Undang Terorisme 2000.
Deklarasi Balfour yang diterbitkan Pemerintah Inggris pada 1917 yang menjadi dasar dukungan internasional terhadap
pembentukan negara Yahudi di Palestina dan masih menjadi sumber utama konflik Israel-Palestina hingga saat ini.
Fakta-fakta Deklarasi Balfour
Mantan Menteri Luar Negeri Inggris yang merupakan keturunan langsung Arthur Balfour, Lord Roderick Balfour menyatakan deklarasi itu tak pernah menjanjikan pembentukan negara Israel.
Dalam wawancara dengan Al Arabiya English, deklarasi itu hanya menyatakan simpati terhadap ide pendirian tanag air bangsa Yahudi di Palestina, bukan dukungan pendirian neggara baru.
"Saya selalu membawa salinan aslinya agar tidak salah menafsirkan," ujar Roderick dikutip dari
Media Indonesia, 10 Oktober 2025.
"Tidak ada kalimat yang mengatakan kami akan mendukung pembentukan Negara Israel. Itu hanyalah pernyataan simpati, tidak lebih. Sisanya hanyalah harapan," imbuhnya.
Menurut dia, terdapat bagian penting dalam deklarasi yang sering dilupakan bahkan membuatnya kerap menuai kritik dari sebagian pihak di Israel. Kalimat itu pada intinya menyatakan tidak boleh mengurangi hak-hak sipil dan keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina.
Pesan moral itulah, imbuh Roderick, yang seharusnya menjadi pegangan, bukan sekadar soal legitimasi politik. "Apa yang terjadi hari ini jelas bukan sesuatu yang diinginkan oleh Arthur Balfour atau pemerintah Inggris di masa itu," tegasnya.
Menanggapi kritik deklarasi itu berpihak pada bangsa Yahudi dan mengabaikan rakyat Palestina, Roderick menjelaskan konteks sejarah pada masa dokumen itu dibuat. Menurutnya, pada 1917 penduduk Palestina tidak dianggap berada dalam kondisi tertekan atau teraniaya.
"Pada saat itu, orang-orang Palestina hidup damai. Sebagian besar menggantungkan hidup pada pertanian dan peternakan. Tidak ada kesan bahwa mereka sedang dikejar atau menderita," ujarnya.
"Karena itu, pemerintah Inggris mungkin berpikir, jika beberapa orang Yahudi ingin tinggal di sana secara damai, tidak akan menjadi masalah," imbuhnya.
Namun, ia menegaskan situasi saat ini telah jauh berubah. Kekerasan, penderitaan, dan pengusiran yang dialami rakyat Palestina tidak sesuai dengan niat awal yang terkandung dalam deklarasi tersebut.
"Apa yang terjadi hari ini jelas bukan sesuatu yang diharapkan oleh (Arthur Balfour) maupun pemerintah Inggris pada masa itu," tambahnya.