NEWSTICKER

Telusuri Motif Aksi Peretasan Bjorka

13 September 2022 13:03

Meski menjamin tidak ada rahasia negara yang bocor, peretasan data oleh akun Bjorka diakui Menko Polhukam, Mahfud MD memang benar terjadi. Di media sosial percakapan mengenai teka-teki sosok di balik akun ini menggelinding bak bola liar. 

Aksi doxing atau penyebaran data sejumlah pejabat malah disambut “positif” warganet. Seolah memberi karpet merah atas aksinya. Apakah sudah saatnya publik beranjak dari kehebohan sesaat ke hal substansial, seperti mendorong pemerintah untuk melakukan perbaikan dan penguatan perlindungan data?

Menurut pakar media sosial, Ismail Fahmi aksi doxing yang dilancarkan Hacker Bjorka di media sosial justru punya impresi yang positif karena publik sudah lelah dengan penipuan yang terjadi dan tidak percaya kepada pemerintah akibat banyaknya data yang bocor serta pemerintah yang tidak melakukan tindakan apapun untuk mengatasinya. Yang paling sering dirasakan langsung oleh publik adalah ketika menerima SMS dan telfon dari orang tidak dikenal. Ada sebagian yang tidak tertipu tapi tak sedikit yang masih terkecoh.

Bjorka datang seperti membantu publik untuk "menampar" pemerintah. Ironisnya data-data yang dibuka adalah data publik yang bisa merugikan publik itu sendiri. Tetapi publik justru mengelu-elukan Bjorka sebagai pahlawan karena publik tidak sadar bahayanya kebocoran data.

Pembahasan mengenai perbaikan perlindungan data pribadi kalah banyak dibandingkan doxing yang timbulkan kehebohan karena banyak publik senang dengan apa yang dilakukan oleh Bjorka. Bjorka dianggap mewakili suara hati publik dalam hal menunjukkan rentannya pengamanan data di Indonesia.

Menurut Anggota Komisi 1 DPR, M Farhan pemerintah memberikan respons yang tampaknya biasa saja dan normatif karena jika pemerintah menunjukkan kepanikan, masyarakat akan lebih panik. Tujuan dari sosok-sosok seperti Bjorka ini untuk menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.