Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh punya cara unik untuk memeriahkan Milad ke-65. Civitas akademika USK menggelar Festival Kuah Beulangong yang tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga upaya melestarikan kuliner tradisional khas Aceh.
Suasana semarak terlihat di lingkungan kampus USK Banda Aceh saat ribuan mahasiswa dan keluarga besar civitas akademika antusias mengikuti festival tersebut. Mereka tampak mengantre untuk menikmati kuah beulangong yang telah dimasak secara bersama-sama.
Sebanyak 42 kuah beulangong dimasak oleh sejumlah peserta menggunakan beulangong atau kuali berukuran besar yang menjadi ciri khas dalam tradisi kuliner Aceh. Proses memasak dilakukan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan bumbu, mengaduk kuah, hingga menyantap hidangan bersama.
Bagi keluarga besar USK, kuah beulangong tidak sekadar makanan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan. Proses memasaknya membutuhkan kerja sama dan keterlibatan banyak orang sehingga menciptakan suasana akrab dan penuh kekeluargaan.
Rektor USK Profesor Mirza Tabrani mengatakan Festival Kuah Beulangong menjadi kegiatan yang sebelumnya belum pernah digelar dalam rangkaian Milad USK. Menurutnya, proses memasak kuah beulangong membutuhkan kerja sama tim sehingga kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan.
“Beulangong ini kan dibuat bersama-sama, tidak mungkin dimasak oleh satu orang. Jadi saya berpikir untuk bekerja sama,” ujar Mirza.
Ia menilai kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antara pimpinan, civitas akademika, alumni, hingga masyarakat sekitar kampus.
“Selain tadi yang saya sampaikan bahwa ini akan mengaitkan kami sebagai semua pimpinan itu dengan seluruh sivitas akademika, termasuk juga alumni,” katanya.
Festival ini sekaligus menjadi upaya USK untuk memperkenalkan dan merawat tradisi kuliner khas Aceh kepada generasi muda. Keterlibatan masyarakat sekitar kampus juga membuat kegiatan tersebut menjadi ruang kebersamaan yang melibatkan lebih banyak pihak.