Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tidak hanya menjadi urusan petugas pemadam dan relawan laki-laki. Di wilayah ini, muncul sebuah gerakan inspiratif bernama komunitas 'The Power of Mama' (TPOM) yang berisikan para ibu rumah tangga yang terjun langsung ke garis depan pemadaman api.
Mengenakan perlengkapan keselamatan seperti helm, masker, dan sarung tangan, para ibu ini tidak gentar menghadapi asap pekat. Mereka tidak hanya sekadar datang melihat, namun turut serta dalam upaya pemadaman dan penanganan karhutla di berbagai lokasi di Ketapang.
Berawal dari Keresahan dan Trauma 2019
Ketua The Power of Mama, Anna Desliani, mengungkapkan bahwa pembentukan komunitas ini didasari oleh rasa khawatir dan trauma mendalam akibat karhutla hebat pada tahun 2019. Kala itu, lebih dari 150.000 hektare hutan dan lahan di Ketapang ludes terbakar.
"Tentu dasarnya adalah kekalutan dan kecemasan yang dirasakan mama-mama. Dampak kebakaran itu bukan hanya soal kehilangan sumber kehidupan, tapi juga masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas," ujar Anna.
Bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YARI), komunitas ini mendapatkan pendampingan dan pelatihan agar aksi mereka di lapangan tetap terukur dan aman.
Salah satu koordinator lapangan TPOM, Juniarni, menegaskan bahwa rasa takut telah hilang karena mereka telah dibekali pelatihan teknis
pemadaman. Baginya, prioritas utama adalah memastikan api tidak merambat ke pemukiman penduduk di desanya.
"Kalau perasaan takut, tidak ada, karena kami sudah pernah dilatih. Kita harus jeli melihat sekitar, apakah pohon di depan kita bahaya untuk tumbang atau tidak. Pokoknya, lingkungan kita harus bebas asap dan tidak ada kebakaran lagi," tegas Juniarni.
Kehadiran The Power of Mama diakui sangat membantu petugas resmi, seperti Manggala Agni. Koordinator Pencegahan dan Inovasi TPOM, Fitria Sri Handayani, menyebutkan bahwa kontribusi para ibu ini sangat besar, terutama dalam hal penguasaan medan (geografis) setempat.
"Kehadiran TPOM sangat membantu saat pemadaman, terutama untuk informasi medan. Pernah suatu kali kami kesulitan menemukan jalan menuju titik api, namun karena mereka orang setempat, mereka tahu jalan pintas melewati pemukiman warga untuk sampai ke lokasi kebakaran," ungkap Fitria.
Selain memadamkan api, The Power of Mama juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar. Mereka mengajak warga untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar, mengingat cuaca kering dan angin kencang dapat dengan cepat memperluas kobaran api.
Semangat para ibu di Ketapang ini menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian hutan dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Dengan aksi nyata di lapangan, The Power of Mama berharap masa depan lingkungan di
Kalimantan Barat dapat menjadi lebih baik dan bebas dari kabut asap.