13 October 2026 15:33
Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru membeberkan berbagai langkah penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penanganan kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Pemerintah Provinsi Sumsel bekerja sama dengan pemerintah pusat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerapkan teknologi terobosan guna mengurai penumpukan asap di udara.
Herman Deru meminta masyarakat membedakan antara penanganan titik api (fire spot) dan masalah kabut asap. Meskipun area kebakaran sempat mengalami penurunan signifikan hingga tersisa 6,9 hektare, sisa asap sering kali tetap terperangkap di udara akibat kondisi topografi dan pergerakan angin.
"Saya mengajak untuk kita semua membedakan ya persoalan asap dengan persoalan apinya sendiri. Jadi asap yang terkepung ini kadang meskipun di lapangan itu hotspot fire spot berkurang, tapi sisa asap ini memang masih terperangkap," ujar Herman Deru dalam tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Untuk mengurai asap tersebut, Sumsel ditunjuk menjadi pilot project penggunaan teknologi es kering (dry ice) bersama BNPB. Langkah ini melengkapi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang telah dilaksanakan sebanyak 73 kali di wilayah Sumsel.
Kerahkan 12 Ribu Personel dan 5 Helikopter Pemadam
Upaya pemadaman karhutla melibatkan tiga satuan tugas (satgas), yaitu satgas udara, satgas darat, dan satgas doa. Lebih dari 12 ribu personel satgas darat bersama relawan, mahasiswa, serta unsur TNI dan Polri diterjunkan langsung ke titik lokasi kebakaran. Di jalur udara, sebanyak lima unit helikopter dari BNPB disiagakan untuk operasi pengeboman air (water bombing), kendati operasionalnya kerap terhambat oleh jarak pandang (visibility).
Penanganan karhutla diprioritaskan pada lima kabupaten penangga Kota Palembang, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Kabupaten OKI memiliki luas wilayah sekitar 19 ribu kilometer persegi dengan kawasan gambut mencapai lebih dari 600 ribu hektare yang sangat rentan terbakar.
"Di Sumatra Selatan ini ada satu kabupaten yang sangat luas namanya Ogan Komering Ilir, persoalannya adalah luasan gambutnya ini di atas 600 ribu hektar, luasan gambut yang sangat rentan terhadap karhutla ini," jelasnya.
Guna memperketat pengawasan di lapangan, Herman Deru mendorong kementerian terkait untuk menambah personel Polisi Kehutanan (Polhut) yang saat ini baru berjumlah sekitar 50 orang untuk mengawasi jutaan hektare kawasan hutan di Sumsel.
Layanan Kesehatan 24 Jam dan Bantuan Stimulus Warga
Untuk menangani dampak kesehatan, posko kesehatan dan puskesmas di seluruh Sumsel disiagakan selama 24 jam secara gratis. Tim tenaga kesehatan juga diinstruksikan melakukan sistem jemput bola dengan memeriksa kondisi warga secara langsung.
Selain penanganan medis, pemerintah daerah menyalurkan bantuan sosial (bansos) dan stimulus ekonomi bagi warga yang mengalami penurunan pendapatan akibat karhutla, seperti pedagang kecil, pengemudi ojek online, serta keluarga siswa yang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Dari sisi pencegahan, Pemprov Sumsel menginstruksikan setiap desa membuat peraturan lokal yang melarang keras aktivitas pembakaran lahan tanpa toleransi. Herman Deru bahkan menyiapkan imbalan bagi warga yang berhasil melaporkan pelaku pembakaran hutan hingga dapat diproses secara hukum.
"Tidak ada kata menyerah di kita ini, Pak, meskipun ini tidak sederhana, menuai kritik terus, yang paling penting adalah stamina anak-anak di lapangan ini tidak boleh kendor," tegas Herman Deru.