Metro Community: Merawat Satwa Liar di Tengah Keterbatasan

3 October 2026 17:49

Berawal dari komunitas pecinta hewan primata liar yang dilepasliarkan oleh pemiliknya, ada sebuah yayasan konservasi satwa di bilangan Kayuringin, Kota Bekasi, yang didirikan dan saat ini memperluas misi penyelamatan untuk berbagai jenis satwa liar.

Dengan kemampuan swadaya atau mandiri, yayasan ini terus berupaya memberikan perawatan, penyelamatan, serta edukasi kepada masyarakat demi menjaga kelestarian satwa dan keanekaragaman hayati

Komunitas ini awalnya diberi nama Paguyuban Pecinta Primata Bekasi (P3 BKS) yang didirikan pada akhir tahun 2020. Bermodalkan kepedulian sosial yang tinggi, tiga tahun kemudian komunitas ini berubah nama menjadi Primates Fostering Care Indonesia (PFCI) agar memiliki cakupan secara nasional dan menunjukkan fokus penanganan tidak hanya pada primata dan reptil.
 



Pada awal tahun 2024, komunitas ini resmi berbadan hukum di bawah naungan Yayasan Konservasi Satwa dan Keanekaragaman Hayati (KSKH). Saat ini yayasan merawat sekitar 25 ekor satwa secara intensif, mulai dari kera ekor panjang, beruk, musang, hingga ular dan biawak.

"Kenapa perubahan itu terjadi? Singkat cerita adalah scoopnya lebih meluas. Kalau di P3 BKS itu kan hanya scoop Bekasi, tapi kita bermetamorfosis menjadi PFCI yang artinya Primates Fostering Care Indonesia, statusnya lebih ke seluruh nasional ya ke Indonesia," kata Ketua Komunitas PFCI Andrie Suprayitno, dalam segmen Metro Community Metro TV, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurut Andrie, salah satu kendala utama di lapangan adalah masih tingginya kasus masyarakat yang memelihara hewan liar tanpa pengetahuan perawatan yang memadai. Lalu melepasliarkannya di lingkungan warga atau melantarkannya di kandang darurat.

Selain merawat hewan serahan, yayasan secara aktif melakukan evakuasi darurat satwa liar yang masuk permukiman serta menggelar program edukasi publik saat car free day (CFD).

"Jadi kita punya kepedulian yang benar-benar ee fokus kepada tidak hanya sesama manusia ya, tapi kita makhluk-makhluk Tuhan yang ada di sekitar kita juga seperti hewan dan tanaman-tanaman juga," katanya.
 
Di balik misi ini, yayasan yang beranggotakan enam orang aktif ini masih bergerak secara mandiri tanpa sponsor resmi atau bantuan anggaran tetap dari dinas terkait. 

Biaya pakan, pemeliharaan kandang, dan obat-obatan dipenuhi dari kantong pribadi relawan serta donasi sukarela. Mereka berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah daerah maupun pecinta satwa

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X