1 November 2026 22:10
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang meluas hingga ke negara tetangga memicu ketegangan diplomatik serta perang narasi antara Indonesia dan Singapura. Guna meredam situasi yang kian memanas, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan melakukan kunjungan mendadak ke Indonesia untuk menemui sejumlah pejabat tinggi hingga Presiden RI Prabowo Subianto.
Lawatan diplomatik Menlu Vivian diawali dengan pertemuan bilateral bersama Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Jakarta. Menarik perhatian publik, Vivian menyampaikan pidatonya menggunakan bahasa Indonesia sebagai gestur diplomasi guna menarik simpati dan mencairkan suasana. Vivian menekankan pentingnya kedua negara memahami perbedaan serta mencari solusi bersama atas tantangan lintas batas tersebut.
Misi diplomasi Vivian berlanjut dengan menyambangi kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pertemuan tertutup tersebut berlangsung serius di tengah sorotan publik atas tensi kedua negara yang sempat meninggi.
Sebelumnya, polemik mencuat setelah Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) di bawah arahan Menteri Lingkungan Hidup Singapura Grace Fu menerbitkan Preventive Measure Notices berdasarkan Transboundary Haze Pollution Act (THPA). Kebijakan tersebut mengancam sanksi hukum terhadap sejumlah perusahaan di Indonesia yang dituding memicu titik api.
Langkah sepihak Singapura tersebut menuai reaksi keras dari Jakarta. Mantan Menteri Perdagangan M. Lutfi membongkar fakta bahwa sebagian besar perusahaan perkebunan yang disorot justru berafiliasi dengan korporasi konglomerat yang terdaftar di bursa saham Singapura (SGX), seperti First Resources dan Bumitama Agri.