NEWSTICKER

4 Terdakwa Kasus Pembunuhan Berencana Brigadir J Berupaya Pengaruhi Hakim

2 January 2023 16:56

Para terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J terus berupaya memengaruhi majelis hakim. Hal itu dilakukan agar mereka mendapatkan vonis seringan mungkin dengan menghadirkan saksi meringankan ke ruang sidang. 

Terdakwa Kuat Ma'ruf menghadirkan saksi meringankan, yakni seorang ahli hukum pidana Muhammad Arif Setiawan dari UII Yogyakarta, Senin (2/1/2023). 

Di hadapan majelis hakim, Muhammad Arif Setiawan menyatakan hasil pelacak kebohongan (lie detector) bukan termasuk alat bukti. Lie detector hanya salah satu instrumen untuk penyidikan kasus. 

"Ahli memahami lie detector adalah satu instrumen untuk keperluan penyidikan," kata Muhammad Arif Setiawan

Sementara itu, Ricky Rizal menghadirkan ahli psikologi forensik dari Universitas Indonesia Nathanael Elnadus J. Sumampouw. 

Pada sidang sebelumnya, terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi sudah dua kali menghadirkan ahli hukum pidana sebagai saksi meringankan ke ruang sidang. Salah satu saksi meringankan yakni ahli hukum pidana dari Universitas Andalas Padang, Prof Elwi Danil.

Elwi danil juga menyebut hasil tes poligraf tidak bisa dijadikan alat bukti sah jika para terdakwa menjalani pemeriksaan dalam kondisi tidak sesuai prosedur. 

Sementara itu, untuk mendapatkan keringanan hukuman, pihak Richard Eliezer menghadirkan saksi meringankan dengan latar belakang keahlian yang beragam, termasuk psikologis klinis, ahli etika filsafat moral dan ahli psikologi forensik. 

Di hadapan majelis hakim, ahli psikologi forensik Reza Indragiri menilai Richard Eliezer kemungkinan mendapat hukuman separuh dari pertanggungjawaban karena mendapat tekanan atas perintah Ferdy Sambo.

Kehadiran saksi meringankan merupakan kesempatan yang diberikan majelis hakim untuk para terdakwa agar menghadirkan ahli dalam berbagai bidang yang memungkinkan untuk menyampaikan pendapat sesuai keahliannya. Tujuannya, untuk memengaruhi hakim meringankan hukuman bagi terdakwa.