YIARI Ungkap Kendala Evakuasi Satwa Terdampak Karhutla di Kalbar

17 October 2026 11:08

 

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menghadapi sejumlah kendala dalam mengevakuasi satwa terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap tebal, medan yang sulit, hingga pohon tumbang menghambat tim menjangkau kawasan terdampak kebakaran.

Medical Supervisor YIARI, drh. Adisa Prayoga, menjelaskan kondisi di lapangan menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan satwa. Tim harus menghadapi kawasan yang masih berbahaya akibat kebakaran, termasuk bara api yang tersisa di bawah permukaan tanah.

“Faktor yang paling utama tentu saja adalah medan. Tidak jarang, area keberadaan orangutan tertutup kabut asap yang tebal. Lahan gambut yang kami pijak juga mengepulkan abu sisa pembakaran yang sangat menyesakkan saat dihirup. Selain itu, bara api di lapisan bawah gambut kerap masih menyala ketika diinjak,” ujar Adisa dalam tayangan Meet Nite Live Metro TV, Sabtu 17 Oktober 2026.

Selain itu, pohon-pohon yang mati akibat terbakar berisiko tumbang sewaktu-waktu. Pohon yang sudah roboh juga menghalangi akses tim menuju lokasi yang membutuhkan penanganan.

Adisa mengatakan, penyelamatan satwa tidak berhenti pada proses evakuasi. Tim juga harus memastikan satwa mendapatkan perawatan yang sesuai serta memiliki tempat yang aman setelah kondisinya pulih.

“Kalau kita menemukan orangutan yang perlu dievakuasi, kita bawa ke pusat rehabilitasi,” ujar Adisa.

Setelah menjalani perawatan, orangutan harus dipastikan sehat sebelum dipindahkan ke lokasi baru. Adisa menjelaskan bahwa pencarian lokasi aman menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika kawasan hutan yang dapat menjadi habitat satwa turut terdampak kebakaran.

“Setelah sehat, kita mencari lokasi yang aman untuk dilepasliarkan atau ditranslokasi,” katanya.

Menurut Adisa, kebakaran yang meluas di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat, membuat upaya pencarian habitat yang aman semakin menantang. Pemindahan satwa perlu mempertimbangkan kondisi lokasi tujuan agar satwa tidak kembali terancam oleh kebakaran.

Untuk mengetahui keberadaan satwa, YIARI melakukan pemantauan dan penyisiran di wilayah terdampak, terutama di sekitar desa dan perkebunan kelapa sawit yang kawasan bernilai konservasi tingginya ikut terbakar.

“Kami memantau dan menyisir area bekas karhutla, khususnya di sejumlah desa dengan sebaran perkebunan kelapa sawit yang luas. Kawasan tersebut juga mencakup beberapa area bernilai konservasi tinggi yang turut terbakar, sehingga tim khusus telah diterjunkan untuk memantau situasi secara langsung,” ujarnya. 

YIARI juga mengandalkan tim lapangan Orangutan Protection Unit (OPU) dan mitra desa di sekitar Ketapang. Informasi dari warga mengenai kemunculan satwa membantu tim menentukan lokasi yang perlu ditindaklanjuti.

Dalam penanganan satwa terdampak karhutla, YIARI mencatat sebanyak 22 satwa berhasil diselamatkan atau mendapatkan perawatan. Satwa tersebut terdiri atas lutung, bekantan, trenggiling, dan kukang.

“Hingga saat ini, satwa yang berhasil kami selamatkan berjumlah 22 satwa,” ungkapnya.

Adisa menjelaskan, jumlah tersebut merupakan satwa yang berhasil ditemukan dan ditangani oleh tim. Ia menilai dampak kebakaran terhadap satwa liar kemungkinan lebih luas daripada jumlah satwa yang berhasil diselamatkan.

Dari satwa yang ditemukan, sejumlah individu mengalami luka bakar tingkat satu hingga dua. Tim juga menemukan seekor orangutan dengan luka serius yang diduga akibat gigitan anjing setelah keluar dari hutan yang terbakar dan masuk ke perkebunan warga.

“Ada beberapa juga yang mengalami luka-luka cukup serius. Yang kemarin satu kita evakuasi itu sepertinya bekas gigitan anjing. Karena tidak jarang orangutan ini, karena lahan hutannya sudah terbakar, jadi berlari ke perkebunan masyarakat di mana di situ masyarakat memelihara anjing. Sehingga, ya, dia mungkin berkelahi dengan anjing tersebut sehingga lukanya cukup parah dan infeksi,” jelasnya.

YIARI juga menemukan seekor orangutan yang mengalami gangguan pernapasan dalam kondisi parah. Satwa tersebut tidak berhasil diselamatkan karena kondisinya sudah berat ketika ditemukan.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X