Jakarta: Dunia teknologi dan religi di Korea Selatan tengah menjadi sorotan setelah sebuah robot humanoid bernama Gabi resmi ditahbiskan menjadi biksu di Kuil Jogye, kuil Buddha terbesar di negara tersebut.
Upacara pentahbisan dilakukan menjelang perayaan Hari Waisak. Dalam prosesi tersebut, robot humanoid itu menerima nama Dharma sebagai identitas spiritualnya.
Robot humanoid tersebut nantinya akan bergabung dengan tiga robot lainnya bernama Seokja, Mohee, dan Nisa dalam parade Lentera Teratai tahunan di Korea Selatan. Parade tersebut merupakan bagian dari perayaan besar untuk memperingati hari kelahiran Buddha.
Menurut Ven Sungwon, direktur urusan kebudayaan dari tarekat tersebut, kehadiran robot humanoid di lingkungan kuil merupakan bagian dari strategi untuk membuat ajaran Buddha terasa lebih relevan bagi generasi muda di
Korea Selatan.
Jumlah Umat Buddha Korea Selatan Menurun
Melansir dari
The Guardian, data menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah umat Buddha di
Korea Selatan, dari 23 persen pada 2005 menjadi hanya 16 persen saat ini. Di kalangan anak muda usia 20-an, angkanya bahkan lebih kecil, yakni sekitar 8 persen. Penurunan jumlah biksu baru yang drastis juga menjadi alasan kuil mulai mengadopsi cara-cara modern untuk berinteraksi dengan publik.
Selain itu, Kuil Jogye tahun lalu hanya menerima 99 biksu baru, jauh menurun dibandingkan satu dekade sebelumnya yang bisa mencapai 200 biksu.
Melansir dari
The Korea Times, dalam prosesi pentahbisan tersebut, seorang biksu juga menjelaskan lima sila atau aturan dasar yang harus dipatuhi umat Buddha. Menariknya, aturan itu kemudian disesuaikan khusus untuk robot humanoid.
Aturan yang Diberikan untuk Gabi
Beberapa aturan yang diberikan kepada Gabi di antaranya:
- Menghormati dan tidak menyakiti kehidupan
- Tidak merusak diri sendiri maupun benda lain
- Mengikuti instruksi manusia tanpa membantah
- Tidak berbicara atau bertindak menipu
- Menghemat energi dan tidak mengisi daya secara berlebihan (overcharge)
Sobat MTVN Lens, pentahbisan Gabi menjadi simbol bagaimana teknologi dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritual. Inovasi ini juga memicu diskusi luas mengenai peran kecerdasan buatan dalam membantu manusia memahami nilai keagamaan di tengah peradaban yang semakin digital.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Jessica Nur Faddilah)