Memaafkan, Jalan Menuju Kedamaian di Bulan Ramadan

19 March 2026 15:57

Bulan suci Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah momentum besar untuk melakukan 'pembebasan' batin dari belenggu amarah dan dendam. Founder ESQ Ary Ginanjar Agustian megaskan bahwa menyimpan dendam ibarat hidup dalam sangkar yang mengurung diri sendiri, menghalangi seseorang untuk menikmati luasnya keindahan dunia dan cahaya batin.

Seringkali manusia merasa bahwa dengan membenci, mereka sedang menghukum orang yang bersalah. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Dendam digambarkan tidak melukai orang yang dibenci, melainkan memenjarakan orang yang menyimpannya dalam lingkaran kecewa dan luka yang tak kunjung usai.

Oleh karena itu, ibadah puasa hadir sebagai proses memerdekakan diri agar manusia mampu kembali melihat 'panorama' keindahan sosial dan alam semesta dengan hati yang lapang.

Belajar dari Keteladanan Rasulullah SAW

Salah satu potret nyata dari fitrah memaafkan ditunjukkan melalui kisah heroik Baginda Nabi Muhammad SAW. Dikisahkan bahwa semasa hidupnya, Rasulullah secara rutin menyuapi seorang pengemis buta di pasar dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Padahal, saat disuapi, pengemis tersebut tidak henti-hentinya memaki dan menghina Nabi Muhammad SAW.
 
Baca juga: Sinaran Kalbu - Bahagia Tanpa Prasangka

Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar Ash-Siddiq mencoba melanjutkan amalan tersebut. Namun, si pengemis langsung menyadari perbedaan cara menyuapi yang dilakukan Abu Bakar. 

Abu Bakar kemudian menangis dan menjelaskan bahwa sosok yang selama ini menyuapi si pengemis dengan penuh cinta adalah orang yang selalu ia maki, yakni Muhammad SAW. Getaran ketulusan dan maaf dari Nabi itulah yang akhirnya membawa pengemis tersebut memeluk agama Islam.

Memaafkan Demi Rida Illahi

Poin penting dalam proses memaafkan di bulan Ramadan adalah meluruskan niat. Memaafkan tidak boleh didasari oleh keinginan untuk dihargai oleh manusia, karena mencari rida manusia seringkali berujung pada rasa kecewa.

Puasa dipandang sebagai ibadah yang sangat personal antara hamba dan Tuhannya, sehingga memaafkan pun menjadi jembatan untuk melahirkan kembali cahaya nurani dan mencapai fitrah yang suci.

Dengan menjadikan Ramadan sebagai sarana pembebasan dari penjara amarah, diharapkan setiap Muslim dapat meraih kedamaian sejati dan kebahagiaan yang selama ini terasa jauh akibat beban hati yang berat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)