18 March 2026 00:33
Upaya Presiden Amerika Serikat mengajak sejumlah negara mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz menemui jalan buntu. Bahkan, sekutu-sekutunya di Eropa terang-terangan menolak. Prancis secara tegas menolak permintaan tersebut pada Minggu, 15 Maret 2026. Kementerian Luar Negeri Prancis menyatakan keengganan mereka untuk terlibat secara militer dalam eskalasi yang terjadi. Jerman juga menolak secara terbuka pada Senin, 16 Maret 2026. Pemerintah Jerman menekankan bahwa misi di Selat Hormuz bukanlah misi NATO dan mereka lebih memilih jalur diplomasi.
"NATO adalah aliansi pertahanan, bukan aliansi intervensi. Oleh karena itu saya berharap kita akan saling memperlakukan dengan rasa hormat yang semestinya dalam aliansi ini. Kita memiliki tujuan yang sama. Rezim Iran ini harus diakhiri. Rezim ini harus digantikan oleh pemerintahan yang sah secara demokratis. Tetapi berdasarkan semua pengalaman yang telah kita peroleh dalam beberapa tahun dan dekade sebelumnya, membomnya hingga tunduk kemungkinan besar bukanlah pendekatan yang tepat," ucap Kanselir Jerman, Friedrich Merz.
Inggris dan Uni Eropa Fokus pada De-eskalasi
Menjadi bagian dari kelompok negara Eropa yang menyatakan ketidakinginan mereka untuk mengirim angkatan laut adalah Inggris. Perdana Menteri Sir Keir Starmer menyatakan bahwa pengamanan Selat Hormuz tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO.
"Pertama-tama, kami bekerja sama dengan pihak lain untuk menyusun rencana yang kredibel untuk Selat Hormuz guna memastikan bahwa kami dapat membuka kembali pelayaran dan jalur melalui selat tersebut. Izinkan saya memperjelas, itu bukan, dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO. Itu harus menjadi aliansi mitra, itulah sebabnya kami bekerja sama dengan mitra baik di Eropa, di Teluk, dan dengan AS," tutur Starmer.
Wakil Presiden Komisi Eropa Kaja Kallas juga mengatakan Eropa tidak memiliki keinginan untuk memperluas misi angkatan lautnya ke Selat Hormuz.
"Iran kini sedang berperang melawan ekonomi global. Para menteri hari ini menegaskan kembali bahwa fokus kami adalah de-eskalasi dan kebebasan navigasi. Saya juga berdiskusi dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan banyak pihak lainnya dalam beberapa hari terakhir mengenai bagaimana menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Eropa tidak memiliki kepentingan dalam perang yang berkepanjangan," tegas Kallas.
Dari negara Asia, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan penolakan negaranya. Jepang menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengirimkan kapal perang dan sedang meneliti langkah mandiri di luar kerangka militer AS. Begitu juga Tiongkok dan Australia yang menolak untuk mengirim kapal perang.
Frustrasi Trump dan Ancaman terhadap NATO
Secara keseluruhan Trump dilaporkan telah meminta bantuan kepada 7 negara, namun hingga 17 Maret 2026, mayoritas sekutu tersebut kompak menolak dengan alasan ini bukan perang kami dan kekhawatiran akan terseret ke dalam konflik militer yang lebih luas dengan Iran. Respons Presiden Donald Trump dan pemerintah AS terhadap penolakan sejumlah negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz ditandai dengan nada frustrasi, kritik terbuka dan ancaman terhadap masa depan kerja sama pertahanan.
Trump secara spesifik memperingatkan bahwa penolakan tersebut akan berakibat sangat buruk bagi masa depan NATO. Ia menegaskan bahwa negara-negara yang selama ini dilindungi AS seharusnya membantu mengamankan jalur pelayaran yang juga mereka gunakan. Trump menekankan bahwa AS telah melindungi banyak negara dari ancaman luar selama bertahun-tahun sehingga ia menuntut balas budi dalam bentuk dukungan militer di Selat Hormuz. Trump secara khusus juga menyampaikan rasa tidak senang dengan sikap Inggris yang tidak mau terlibat.
"Jadi saya sangat kesal, bukan kesal, saya tidak senang dengan Inggris. Saya pikir mereka akan terlibat, ya, mungkin. Tapi mereka harus terlibat dengan antusias. Kita telah melindungi negara-negara ini selama bertahun-tahun dengan NATO karena NATO adalah kita. Anda bisa bertanya pada Putin. Putin takut pada kita. Dia tidak takut, dia sama sekali tidak takut pada Eropa. Dia takut pada Amerika Serikat dan militer yang saya bangun pada masa jabatan pertama," ucapnya.
Gelombang Protes Warga dan Defisit Alutsista?
Penolakan negara-negara Uni Eropa untuk terlibat perang di Selat Hormuz tak lepas dari demonstrasi besar-besaran yang terjadi di lebih dari 150 kota di Eropa termasuk London, Paris dan Berlin yang menuntut agar pemerintah mereka tidak terlibat dalam perang AS Israel melawan Iran. Rakyat Eropa mengkhawatirkan dampak langsung seperti kenaikan harga energi dan risiko keamanan domestik akibat serangan balasan.
Sementara itu, pakar geopolitik Raymond Sihombing menilai negara-negara Uni Eropa sejatinya tidak menyangka kekuatan militer Iran yang begitu luar biasa. Di samping itu, mereka sendiri mengalami defisit alutsista setelah dipakai membantu Ukraina dalam perang melawan Rusia.
"Mereka tidak ingin baik negara yang tergabung dalam AUKUS dan NATO, mereka tidak ingin terlibat langsung dengan konflik dengan negara Iran. Karena kita tahu dan fakta yang kemudian terbuka setelah 14 hari lebih serangan dari Amerika Serikat dan Israel ke Iran bahwa sebenarnya persenjataan dan kekuatan militer Iran untuk melindungi dan membalas serangan dari Amerika dan Israel itu tidak terbayangkan. Lalu yang kedua kalau kita lihat di sini misalnya kalau kita ambil contoh Inggris dan Italia dan juga Prancis ini adalah negara-negara yang mengirimkan atau negara-negara yang memberikan bantuan senjata atau persenjataan secara militer dan uang dan finansial ke Ukraina pada saat perang di Ukraina, dan sekarang mereka sendiri sedang mengalami masalah keterbatasan dan bahkan defisit amunisi," jelas Raymond.
Amerika Serikat kini kesulitan mencari mitra koalisi militer dalam perang Iran. Kini yang bisa dilakukan adalah membujuk negara-negara teluk untuk terlibat. Namun tampaknya itu akan sulit dilakukan karena mulai muncul kesadaran di negara-negara teluk bahwa ikut terjun langsung ke perang melawan Iran hanya akan merugikan kepentingan nasional mereka dan memicu instabilitas kawasan.