Jelang Waisak, Majelis MUNI Gelar Prosesi Krodikali di Candi Borobudur

29 May 2026 15:57

Dua hari menjelang puncak Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era, suasana khidmat menyelimuti Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Sejumlah umat yang tergabung dalam Majelis Umat Nyingma Indonesia (MUNI) mulai melaksanakan rangkaian prosesi keagamaan sebagai bentuk persiapan spiritual, termasuk Krodikali.

Rangkaian ritual dimulai sejak pagi hari dengan sembahyang pribadi di struktur candi agung tersebut. Para umat dari aliran Buddhisme Tibet ini memanjatkan penghormatan kepada Guru Agung Buddha sebelum melanjutkan ke prosesi utama, yakni Krodikali Feast Offering

Dalam ritual ini, umat memberikan berbagai persembahan sembari memanjatkan doa-doa suci. Prosesi ini memiliki makna filosofis yang dalam, yakni sebagai sarana memupuk karma baik dan upaya memutus rantai ego diri. Menurut ajaran ini, ego manusia dianggap sebagai akar dari segala kesengsaraan dan tantangan terbesar bagi perdamaian di masa kini.

Pembina Majelis MUNI, Y.M. Serling Tulku Yongdzin Rinpoche, menegaskan bahwa aspirasi yang dipanjatkan dalam ritual ini ditujukan bagi keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kesejahteraan bangsa, serta perdamaian dunia. 


"Kita baru saja memanjatkan aspirasi agar Negara Kesatuan Republik Indonesia, bangsa kita, dan perdamaian dunia. Itu maknanya doa kami. Kami dari Majelis MUNI, kami mengetahui bahwa musuh terbesar ada di dalam diri kita, yaitu nafsu keinginan, amarah, intinya ego, itu akar penyebab masalah," ujarnya dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Jum'at 29 Mei 2026. 

Melalui praktik spiritual ini, diharapkan ego dapat berkurang sehingga tercipta keharmonisan dalam keluarga, masyarakat, dan dunia yang lebih indah.

Rangkaian prosesi Majelis MUNI dijadwalkan berlangsung hingga sore hari. Sebagai penutup rangkaian jelang Waisak, para umat akan melaksanakan prosesi larung pelita yang dipusatkan di Candi Pawon, Kabupaten Magelang.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)