Jakarta: Hujan meteor Perseid kembali menghiasi langit pada Juli hingga Agustus 2026. Fenomena astronomi tahunan tersebut berlangsung mulai 17 Juli hingga 24 Agustus 2026 dan menjadi salah satu peristiwa langit yang dapat dinantikan para penggemar astronomi.
Meski puncak aktivitas Perseid baru terjadi pada Agustus, pengamatan sejak pertengahan Juli tetap menarik karena fase awal fenomena ini dapat menghadirkan fireball atau bola api. Fenomena tersebut terlihat sebagai ledakan cahaya dan warna yang lebih terang serta bertahan lebih lama dibandingkan garis meteor pada umumnya.
Mengenal Hujan Meteor Perseid
Hujan meteor Perseid dikenal sebagai salah satu fenomena hujan meteor terbaik sepanjang tahun. Mengutip
NASA, fenomena ini termasuk salah satu hujan meteor paling melimpah dengan sekitar 50 hingga 100 meteor yang dapat terlihat setiap jam dalam kondisi pengamatan yang mendukung.
Perseid juga dikenal karena kemunculan bola api yang menghasilkan cahaya terang di langit. Dari sudut pandang pengamat di Bumi, meteor dalam fenomena ini seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus di langit utara sehingga dinamakan Perseid.
Puncak Hujan Meteor Perseid 2026
International Meteor Organization (IMO) memperkirakan puncak utama hujan meteor Perseid terjadi pada 13 Agustus 2026 pukul 02:00 hingga 04:00 Universal Time. Jika dikonversikan ke waktu Indonesia, periode tersebut berlangsung pada pukul 09:00 hingga 11.00 WIB, 10:00 hingga 12:00 WITA, dan 11:00 hingga 13:00 WIT.
Waktu puncak tersebut bertepatan dengan pagi hingga siang hari di Indonesia sehingga tidak dapat disaksikan secara langsung karena kondisi langit sudah terang. Waktu pengamatan terbaik bagi masyarakat Indonesia adalah malam Rabu, 12 Agustus, hingga dini hari Kamis, 13 Agustus 2026, terutama setelah tengah malam hingga menjelang Matahari terbit.
Hujan meteor Perseid dapat diamati dari Indonesia, tetapi jumlah meteor yang terlihat kemungkinan lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah di belahan Bumi utara. NASA menjelaskan fenomena tersebut lebih optimal diamati dari belahan Bumi utara pada jam-jam sebelum fajar karena titik radian Perseid berada di sekitar rasi bintang Perseus.
Menurut IMO, Perseid tidak dapat diamati secara optimal dari sebagian besar wilayah belahan Bumi selatan maupun daerah dengan lintang di atas 60 derajat lintang utara. Kondisi tersebut membuat peluang pengamatan dari Indonesia secara umum lebih baik di wilayah bagian utara atau daerah yang berada lebih dekat dengan garis khatulistiwa.
Tips Mengamati Hujan Meteor Perseid
Masyarakat yang ingin mengamati Perseid dapat memilih lokasi dengan kondisi langit yang gelap dan minim polusi cahaya. Pengamatan juga sebaiknya dilakukan setelah tengah malam hingga menjelang Matahari terbit pada 12-13 Agustus 2026 untuk mendapatkan peluang melihat meteor yang lebih banyak.
Pengamatan hujan meteor tidak membutuhkan teleskop karena fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang dalam kondisi langit yang mendukung. Pengamat juga disarankan memberikan waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kondisi gelap dan menghindari sumber cahaya terang selama proses pengamatan.
Dengan periode aktivitas yang berlangsung hingga 24 Agustus 2026, masyarakat masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor Perseid meski tidak berada pada malam puncaknya. Bagi pengamat di Indonesia, malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus menjadi salah satu waktu yang paling layak untuk mengarahkan pandangan ke langit dan menikmati fenomena astronomi tersebut. (Daffa Yazid Fadhlan)